Showing posts with label Alam. Show all posts
Showing posts with label Alam. Show all posts

Thursday, February 10, 2011

Kontroversi New7Wonders



Alasan "Lebay", Komitmen Pemerintah dan Kompetisi "Tandingan"

Tadi malam, saat membuka situs blog resmi  New 7 Wonder, saya sempat tersenyum-senyum sendiri didepan monitor komputer. Dalam artikel bertajuk “New7Wonders keeps Komodo, but removes Ministry of Culture and Tourism from official role” sang penyelenggara kompetisi New 7 Wonder itu menyatakan tetap mempertahankan voting Taman Nasional Komodo dalam ajang New 7 Wonder namun “memecat” Kementerian Kebudayaan Pariwisata (Kemenbudpar) sebagai Official Supporting Committee mereka.
Bernard Weber, President and Founder New 7 Wonder (N7W) dalam blog itu menyatakan :
“Every action by the Ministry of Culture and Tourism last week strengthened the case for us to withdraw from Indonesia completely. If we depended on the Ministry, then today we would be forced to announce a complete pull-out.”
“Fortunately, in the past days we have received many encouraging and supporting requests from the public and leading individuals to allow Komodo to continue as a Finalist in the Official New7Wonders of Nature”
“The main news today is this: with the removal of the Ministry of Culture and Tourism from its official role in the campaign, voting for Komodo can continue.“
Pernyataan Weber menurut saya sungguh aneh. Bagaimanapun sebagai pemangku otoritas dan regulasi dibidang kebijakan Kebudayaan dan Pariwisata di Indonesia, Kemenbudpar seyogyanya tetap menjadi mitra strategis yang paling pas untuk mereka dalam kompetisi ini.

Alasan mereka bahwa Kemenbudpar melakukan pengingkaran komitmen dengan menolak Indonesia menjadi tuan rumah deklarasi New 7 Wonder yang turut menjadi dasar pemikiran perusahaan asal Swiss ini mengeluarkan Kemenbudpar sebagai mitra kepanitiaan resmi , sungguh sangat menggelikan dan kekanak-kanakan.

Dalam siaran pers resmi yang dikeluarkan oleh Kemenbudpar kemarin (7/2), Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik secara jelas menyatakan:
”Pemerintah Indonesia tidak pernah membuat perjanjian dengan pihak penyelenggara N7W maupun pihak lain, di luar kesepakatan yang telah tercantum dalam Standard Participation Agreement”
”Pemerintah Indonesia menilai N7W bertindak terlalu jauh dan tidak masuk akal, dengan mengaitkan status TNK sebagai finalis N7W dengan tawaran menjadi tuan rumah untuk acara pengumuman pemenang. Untuk menjadi tuan rumah acara tersebut Pemerintah harus membayar pembayaran license fee sebesar USD10 juta. Biaya tersebut belum termasuk biaya penyelenggaraan acara seperti biaya produksi, tempat acara serta lain-lain yang secara total bisa mencapai USD45 juta. Pemerintah menganggap pemilihan finalis New7Wonders seharusnya didasarkan atas aspek keunikan dan besarnya dukungan masyarakat dunia, bukan atas persyaratan pembayaran uang jasa sebagai tuan rumah yang bernilai jutaan dolar,”
Menteri juga menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia telah memenuhi seluruh persyaratan penominasian, yakni dengan memberikan dukungan resmi pada tiga nominasi dari Indonesia; (1) Taman Nasional Komodo, (2) Danau Toba dan (3) Anak Gunung Krakatau, pada Agustus 2008 silam, serta mendaftarkan diri sebagai Official Supporting Committee dan mengisi “Standard Participation Agreement” yang menetapkan Pemerintah, antara lain, untuk memenuhi kewajiban administrasi sebesar USD199 untuk masing-masing nominasi dari Indonesia.

Fakta-fakta diatas menyebutkan bahwa sesungguhnya Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kemenbudpar telah mengikuti prosedur standar yang telah ditetapkan. Tidak ada pengingkaran karena memang segala kewajiban administratif telah terpenuhi dan sejauh ini pemerintah tidak terlibat dalam pembicaraan bersama konsorsium swasta sebagaimana yang kerap disebut-sebut oleh N7W.

Dari penjelasan Menbudpar diatas, semakin terlihat jelas faktor uang yang berada dibalik ajang New 7 Wonder ini. Perusahaan swasta asal Swiss itu berusaha menampilkan “pencitraan” yang rapi dengan publikasi menawan bahwa seakan-akan, ada dukungan dan desakan publik untuk tetap mempertahankan TN Komodo dalam daftar nominasi N7W ini. Alasan “lebay” yang dikemukakan itu sesungguhnya untuk menutupi hasrat besar untuk memanfaatkan potensi raksasa yang dimiliki Indonesia untuk memperoleh keuntungan.

Dengan mencoret TN Komodo dalam nominasi tentu akan begitu besar potensi penghasilan yang lenyap dan dapat diraup oleh perusahaan ini. Indonesia, dengan jumlah populasi 238 juta jiwa dan berada pada peringkat keempat penduduk terbanyak didunia, mengalami pertumbuhan spektakuler dalam hal penggunaan internet dan aktifitas online selain terkenal memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi .

Seperti dikutip dari berita di Kompas.com Indonesia menempati urutan pertumbuhan tercepat kedua di dunia dari sisi jumlah pengguna Facebook. Indonesia hanya kalah dari AS yang juga merupakan pengguna Facebok terbanyak di dunia.

Berdasarkan survei Inside Facebook yang dilakukan eMarketer, jumlah pengguna Facebook di Indonesia naik 1.431.160 juta pengguna dalam sebulan terakhir. Pada 1 Desember 2009, e-marketer mencatat jumlah pengguna Facebook di Indonesia 13.870.120 pengguna, sedangkan pada 1 Januari 2010 sebesar 15.301.280 pengguna. Indonesia hanya satu peringkat di bawah AS yang mencatat kenaikan jumlah pengguna 4.576.220 pengguna dalam periode yang sama dari 98.105.020 menjadi 102.681.240 pengguna.
Meski demikian, persentase kenaikan jumlah pengguna Facebook di Indonesia mencapai dua kali lipat AS. Indonesia naik 10 persen, sedangkan AS hanya 5 persen. Kenaikan 10 persen termasuk persentase pertumbuhan tertinggi di dunia. Selain Indonesia, beberapa negara yang mencapai kenaikan dengan persentase 10 persen antara lain Filipina dan Malaysia.
Fakta yang lain, seperti dikutip dari detik, Indonesia adalah pengguna Twitter kedua terbesar di dunia setelah Brasil berdasarkan lembaga pemeringkat Comscore. dengan persentase sebesar 20,5 %. Penetrasi mobile internet yang begitu cepat dan murah kian menambah intensitas pengguna aksesnya di Indonesia.
Pertimbangan ini tentu saja tidak diabaikan oleh N7W untuk menggugah dan memicu sentimen nasionalisme bangsa ini guna meraup benefit sebanyak-banyaknya melalui voting online dalam ajang kompetisi N7W dengan tetap mempertahankan Taman Nasional Komodo dalam N7W.

Pemerintah Indonesia, dengan atau tanpa N7W, tetap akan berkomitmen mempromosikan TNK, sebagai warisan dunia yang telah ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 1991 dan perlu dilindungi serta dijaga kelestariannya. Keikutsertaan TNK dalam N7W tersebut tentu dilakukan untuk lebih mempopulerkan pengakuan TNK sebagai Situs Warisan Dunia.

Saya sangat mengapresiasi niat Mas Keke (atau Riyeke Ustadiyanto, SEO Creative Director Marketbiz.net) dan kawan-kawan yang menggagas Kompetisi SEO Komodo Contest di www.contest.comodo.me. yang dapat menjadi semacam “tandingan” atas kompetisi ini.

Melihat polemik dari Pulau Komodo sebagai New 7 Wonders (7 Kejaiban Dunia Baru), maka kita buktikan saja, bahwa memang saatnya mengatakan sebenarnya ke khalayak dunia di Google dan Search Engine lainnya, merupakan kewajiban kita semua.
Kami mengajak Anda semua untuk mengatakan dan menyuarakan bahwa Pulau Komodo adalah 7 Keajaiban Dunia sebenarnya. SEO Contest ini tidak dilatarbelakangi oleh politik, kepentingan dan murni apa yang harus dikatakan pada dunia.
Kata kunci yang di lombakan adalah “Komodo Island is the NEW 7 Wonders of  The World”
Sebuah niat yang luhur yang patut didukung. Semoga aksi nyata mewujudkan impian “Komodo Island is the NEW 7 Wonders of The World” yang digagas lewat kompetisi ini dapat terwujud nyata dan menunjukkan pada dunia bahwa Taman Nasional Komodo memang layak menyandang predikat ini tanpa harus tergantung pada kompetisi N7W yang sarat kepentingan dan unsur komersil.


Sumber: daengbattala.com

W7Woders dan Kotroversi yang Menyertainya

Komodo (sumber : Kompas.com)


Menarik sekali membaca blog Mas Priyadi yang membahas soal Fakta-Fakta di Balik New 7 Wonders yang digagas oleh sebuah perusahaan privat di Swiss untuk melakukan pemilihan 7 keajaiban dunia baru yang dilaksanakan melalui kontes popularitas online berskala global. Taman Nasional Komodo terpilih menjadi salah satu finalis dari 28 negara untuk menjadi salah satu kandidat pemenang dalam ajang ini.


Dan situasi mendadak “memanas” ketika hari ini diberitakan nominasi Indonesia terancam di-elimninasi dalam kompetisi terkait ketidaksiapan menjadi tuan rumah deklarasi yang akan diadakan tanggal 11 November 2011. Tak kurang pengacara kondang Todung Mulya Lubis yang juga Ketua Masyarakat Transparansi Indonesia ditunjuk oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) sebagai pengacara untuk menghadapi situasi ini. Alasan eliminasi dari nominasi hanya karena Indonesia tidak bersedia menjadi tuan rumah (hosting) deklarasi sungguh tidak adil setelah mekanisme voting itu sendiri dilaksanakan sejak 2008.
Seperti yang saya kutip dari Kompas.com, Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar) Sapta Nirwandar menyatakan:
“Kita minta keadilan, voting dari 2008 masa hilang karena gak mau hosting. Hormatin dong voting dari tahun 2008. Ini voting kan bukan hanya dari orang Indonesia, tetapi juga luar negeri,” kata Sapta kepada Kompas.com via telepon, Jumat (4/2/2011).
Namun, Sapta mengakui bahwa di perjanjian umum pada saat mendaftar terdapat klausa yang menyatakan bahwa pihak New7Wonders berhak mengeliminasi apabila tidak sesuai dengan ketentuan. “Tapi itu kan kalau punya dosa. Ini dosanya apa?” ucapnya.
Sapta menuturkan bahwa eliminasi jelas dikaitkan dengan posisi Indonesia sebagai tuan rumah. Sapta menambahkan, Indonesia tidak ikut jadi tuan rumah karena tidak siap dengan kondisi biaya. “Kalau dia (New7Wonders) mau eliminasi, eliminasi Indonesia yang tidak sanggup jadi host. Ini kita yang dieliminasi Komodo yang jadi finalis. Mestinya profesional,” katanya.
Pihak New7Wonders memang telah melakukan kontrak dengan sebuah konsorsium swasta di Indonesia. Sapta mengatakan, pihaknya tidak pernah tahu ada kontrak tersebut. Selama ini, ia melanjutkan, pihak Kembudpar baru sebatas mengadakan pembicaraan saja mengenai ketertarikan menjadi tuan rumah dan sama sekali belum terikat kontrak dengan New7Wonders.

Dalam sebuah berita di Kompas.com hari ini dipaparkan pula,
Gugatan kepada New 7 Wonder akan dilayangkan melalui pengacara Todung Mulya Lubis. Surat tersebut juga akan ditembuskan kepada 27 finalis New7Wonders lainnya.
“Todung mengirim surat mengenai masalah ini ke pihak New7Wonders. Tahap pertama nanti kita lihat dulu reaksinya,” kata Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar) Sapta Nirwandar kepada Kompas.com via telepon, Jumat (4/2/2011).
Dalam surat Menbudpar Jero Wacik yang ditujukan kepada Wakil Presiden Boediono perihal “The Truth Behind N7W: Konsistensi, Kredibilitas, dan Kehormatan Bangsa”, Kembudpar telah menyiapkan langkah-langkah dari aspek hukum dan sosial masyarakat.
Dari aspek hukum, Kembudpar telah berkonsultasi dengan Todung selaku pengacara. Selain itu, Kembudpar juga belum pernah menandatangani perjanjian sebagai tuan rumah penyelenggaraan deklarasi New7Wonders. Langkah yang akan diambil Kembudpar adalah menyampaikan surat pengunduran diri dari minat menjadi tuan rumah.

Sementara itu, pada berita di Tempo Interaktif, Sapta mengungkapkan:
Ancaman Yayasan New7Wonders (N7W) yang bakal mengeliminasi Komodo dari nominasi tujuh keajaiban baru dunia, sangat merugikan Indonesia.
Yayasan internasional itu menyatakan akan mengeliminasi Komodo jika pemerintah dan konsorsium swasta tidak memenuhi landasan hukum yang disepakati. Namun, pemerintah membantah adanya kontrak dengan N7W tentang penunjukkan Indonesia sebagai tuan rumah deklarasi kompetisi pada 11 November mendatang.
Menurut Sapta, saat ini masyarakat luas baik dalam maupun luar negeri sudah memberikan suaranya untuk memilih Komodo. “Tentu jika komodo dieliminasi akan mengecewakan para pemilihnya,” kata Sapta.
Kekecewaan itu, kata Sapta, saat ini sudah mulai terasa. Salah satunya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Masyarakat NTT, kata Sapta, mengusulkan agar pemerintah membuat kompetisi tandingan untuk menampung suara yang sudah terkumpul bagi Komodo. “Tapi kami belum menindaklanjuti usul tersebut.”

Pada Blog “Save Komodo” (yang nampaknya menjadi “corong” informasi New7Wonder) , atas nama “anak bangsa” secara “heroik” menyebutkan:
Kini setelah memasuki tahun kedua, Komodo terancam dicopot dari nominasinya. Mengapa? Karena barangkali kita semua terlalu cuek dan kurang cerdas memanfaatkan peluang besar ini dan seringkali juga kurang cermat bergaul dengan masyarakat internasional.
Yayasan N7W di Zurich yang bertindak sebagai pemrakarsa dan pemilik hak penyelenggaraan sebenarnya sudah menetapkan dan memilih Indonesia sebagai tempat penyelenggaraan Deklarasi dan Penganugerahan 7 Keajaiban Alam Yang Baru pada tanggal 11 Nopember 2011. Indonesia dipilih karena selain banyak keanekaragaman hayatinya, juga karena masyarakatnya yang ramah serta terlah berkali-kali sukses menyelenggaraan berbagai pertemuan dan festival internasional. Dan yang paling penting lagi adalah azas demokrasi di Indonesia sangat luar biasa. New7Wonders adalah 100% pilihan masyarakat dan rakyat dunia bukan pilihan pemerintah atau lembaga pemerintah. Jadi azas demokrasi adalah tulang punggung dari eksistensi dan kompetisi ini. Indonesia telah menjadi raksasa demokrasi dunia.

Sejak Komodo ditetapkan sebagai finalis 7 Kejaiban Alam Dunia, pemerintah sadar bahwa untuk bersaing dengan calon keajaiban alam dunia lainnya seperti Amazone, Great Barrier Reefs, Grand Canyon, Kilimanjaro dan Sundhaban yang memiliki dukungan milyaran masyarakatnya tidak mudah. Oleh karena itu maka dibutuhkan strategi khusus untuk tampil dan menang sebagai salah satu keajaiban alam dunia yang baru. Strategi ini diwujudkan dalam keinginan pemerintah untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Deklarasi dan Penganugerahan Pemenang 7 Keajaiban Alam Dunia yang baru. Keingingan ini sudah berkali-kali disampaikan kepada masyarakat dan Yayasan N7W. Bahkan pada awal tahun 2010 yang lalu, Kemenbudpar selaku pemrakarsa ide ini telah mengundang pihak N7W dating ke Jakarta untuk memberi saran dan masukan bagaimana agar Komodo menang dan Indonesia menjadi tuan rumah Penganugerahan dimaksud. Berkali-kali N7W datang ke Jakarta untuk meninjau dan memastikan bahwa Jakarta, Indonesia pantas menjadi tuan rumah. Pemerintah sangat antusias. Bahkan rancangan Keputusan Presiden tentang Panitia Nasional Vote Komodo dan rencana menjadi tuan rumah sudah diajukan sejak pertengahan Januari 2010.
Pada bagian lain, situs ini juga menceritakan kronologis peristiwa hingga Taman Nasional Komodo terancam dieliminasi dari nominasi 7 New Wonders.

Sore tadi saat saya ikut hadir dalam sebuah pertemuan informal bersama sejumlah perwakilan rekan blogger dari berbagai komunitas bersama Kemenbudpar yang di-inisiasi oleh IDBlognetwork. Saya sedikit banyak mendapatkan pencerahan soal kontraversi yang terjadi soal New 7 Wonders ini.
Berikut catatan saya:
1.  Merujuk pada situs blog resmi New 7 Wonder disebutkan angka yang cukup fantastis untuk lisensi fee penyelenggaraan event deklarasi sebesar US$ 10 Juta (Rp 100 Milyar) yang konon telah secara legal ditandatangani dalam kontrak bersama New 7 Wonders dengan “Private Consorsium” (Tidak jelas ini “private consorsium” apa, istilah yang sama disebut Pak Sapta pada awal kutipan artikel diatas dengan istilah sebagai “konsorsium swasta”) .
Bagi saya angka Rp 100 Milyar bukanlah sebuah nilai yang sedikit dan banyak yang bisa dilakukan untuk dunia pariwisata di Indonesia dengan uang sebesar itu ketimbang untuk sebuah perhelatan deklarasi gelar “7 New Wonder” yang terkesan seremonial belaka. Nilai itu bisa lebih besar lagi bila ditambahkan biaya penyelenggaraannya sendiri (konon dapat mencapai US$ 35 juta). Saya sempat tersenyum saat salah seorang peserta diskusi nyeletuk,”Duit itu mending dipake beli makanan komodo dan pengembangan habitatnya disana!”.

2. Mekanisme pemilihan lewat voting di internet sangat rentan manipulasi. Pemungutan suara secara online bisa saja dilakukan berkali-kali oleh pihak yang sama apalagi tidak dilakukan verifikasi dan audit independen untuk itu. Kontraversi memang kerap terjadi pada ajang ini. Seperti tercantum di Wikipedia terdapat 14 juta suara dari dalam negeri Yordania telah memilih Petra–sebuah situs bersejarah disana–padahal populasi penduduk Yordania sendiri berada dibawah 7 juta orang.

Saya tertarik pada pernyataan di situs World Heritage Convention UNESCO, Badan Resmi PBB yang mengurus soal konservasi situs keajaiban dunia yang menyatakan secara tegas bahwa:
The list of the “7 New Wonders of the World” will be the result of a private undertaking, reflecting only the opinions of those with access to the internet and not the entire world.  This initiative cannot, in any significant and sustainable manner, contribute to the preservation of  sites elected by this public.
Kredibilitas UNESCO dalam penetapan reservasi daerah atau tempat yang perlu dilestarikan merupakan sebuah rujukan valid karena tentu telah melalui kajian-kajian ilmiah yang komprehensif serta mendalam dan tidak sekedar kesan sesaat atau pertimbangan sentimental belaka.

3. Saya tidak mengerti mengapa lantas status nominasi Taman Nasional Komodo terancam dihapus hanya lantaran Indonesia tak bersedia menjadi tuan rumah deklarasi. Ah, come on, ini sebuah alasan yang mengada-ada. Kita sudah cukup cerdas untuk memahami tak ada kaitan apapun antara kedua hal ini. Seharusnya, atas dasar keadilan, nominasi Komodo tetap jalan meski Indonesia tidak jadi tuan rumah.
Saya sependapat dengan apa yang disinyalir Mas Priyadi dalam tulisan diblognya bahwa:
New7Wonders hanyalah eksploitasi terhadap rasa nasionalisme. Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar dan mayoritas memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Wajar jika kini kita semua menjadi incaran mereka. Terlihat mereka seperti sangat berat hati jika harus memindahkan lokasi acara puncak ke luar Indonesia, sampai-sampai harus memberi ancaman untuk mendiskualifikasi Pulau Komodo.
Harapan saya, dan mungkin juga harapan seluruh masyarakat Indonesia bahwa kita tentu akan menolak upaya-upaya sistematis  yang “memanfaatkan” sentimen nasionalisme bangsa ini untuk kepentingan segelintir pihak yang hanya ingin menangguk keuntungan komersil dari sana.

4. Saya mendukung sikap Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengambil langkah tegas bahkan untuk melakukan rencana gugatan kepada 7 News Wonder.  Kehormatan dan harga diri bangsa ini layak diperjuangkan. Saya tidak sependapat atas apa yang dikatakan si “anak bangsa” yang menyatakan: barangkali kita semua terlalu cuek dan kurang cerdas memanfaatkan peluang besar ini dan seringkali juga kurang cermat bergaul dengan masyarakat internasional. Justru bagi saya,momentum ini telah menggugah kecerdasan dan kesadaran kita semua untuk kian peduli pada potensi pariwisata negeri sendiri dan By the way, memangnya siapa pula yang dimaksud dengan “masyarakat internasional” sehingga membuat kita seringkali  jadi kurang cermat bergaul ? Lembaga 7 New Wonder? Meminjam Kalimat Sule OVJ : “Owh, Tidak Bisa! :)


5. Apapun langkah yang diambil oleh Pemerintah Indonesia dalam menyikapi situasi ini, saya yakin inilah langkah terbaik. Jika memang Taman Nasional Komodo mesti dihapuskan dalam ajang kompetisi, bukanlah sebuah hal yang harus dirisaukan. Saya yakin segenap elemen bangsa ini akan mengerahkan segala kemampuan terbaiknya  untuk bersama-sama mempromosikan daerah wisata di Indonesia, dengan atau tanpa ajang 7 New Wonders.  Promosi Taman Nasional Komodo dan Daerah wisata potensil lainnya di Indonesia, lewat cara dan bentuk apapun, adalah manifestasi cinta dan rasa kebangsaan kita yang tinggi untuk bangsa ini.

MAJU TERUS INDONESIAKU !

 Sumber: daengbattala.com

Sebuah Surga di Bahari Derawan




Sebuah nirwana tropis berada di salah satu pulau wilayah Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya Kabupaten Berau dan di Selat Sulawesi, tak jauh dari perbatasan Malaysia. Pulau Derawan menjadi sebuah destinasi wisata bahari pilihan menawan buat Anda yang menyukai pantai dengan hamparan pasir putih lembut berkilat serta air jernih. Apalagi ditambah bonus menjumpai penyu-penyu jinak yang berenang-renang riang saat kita melakukan penyelaman.

Terkadang saat duduk di ujung jembatan kayu yang mengarah ke laut, kita dapat menyaksikan penyu-penyu hijau itu hilir mudik di permukaan air yang bening. Sesekali bahkan penyu-penyu tersebut nampak berkeliaran di sekitar cottage yang berada di pesisir pulau. Saat malam tiba, beberapa penyu naik ke darat dan bertelur di sana.

Paduan warna laut dan lumut yang memukau menghasilkan gradasi warna biru dan hijau, serta hutan kecil di tengahnya, membuat pulau ini menyajikan pemandangan alam begitu indah yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Yang tersisa, kenangan mendalam.




Dr. Carden Wallace dari Museum Tropis Queensland, Australia pernah meneliti kekayaan laut Pulau Derawan dan menjumpai lebih dari 50 jenis Arcropora (hewan laut) dalam satu terumbu karang. Tak salah kiranya jika Pulau Derawan terkenal sebagai urutan ketiga teratas di dunia sebagai tempat tujuan menyelam bertaraf internasional

Pulau ini memang relatif kurang begitu dikenal khususnya di dalam negeri karena untuk mencapainya butuh perjuangan tersendiri yang cukup berliku. Anda mesti menuju ke Balikpapan dulu dari Jakarta, Surabaya, Yogyakarta atau Denpasar, untuk menuju pulau ini. Kurang lebih dua jam waktu tempuh penerbangan dari Jakarta ke Balikpapan.

Dari Balikpapan, Anda masih harus terbang menuju Tanjung Redeb selama satu jam dengan menaiki pesawat kecil yang dilayani oleh KAL Star, Deraya atau DAS. Selain itu, Tanjung Redeb juga bisa dicapai melalui laut, dengan menaiki kapal dari Samarinda atau Tarakan ke Tanjung Redeb dilanjutkan dengan menyewa motorboat menuju pulau Derawan dengan lama perjalanan kurang lebih 2 jam.




Banyak wisatawan manca negara yang baru turun dari pesawat di bandara Kalimarau, Tanjung Redeb langsung berangkat ke pulau Derawan dengan motorboat yang sudah ditambatkan di sebuah pelabuhan khusus.

Alternatif lain bisa juga melalui perjalanan darat dari Balikpapan ke Tanjung Batu lalu dari sana menyeberang ke Pulau Derawan. Hanya saja ini bukan pilihan yang bagus karena perjalanan penyeberangan itu sendiri memakan waktu hingga belasan jam dengan medan yang relatif tidak menyenangkan.

Meskipun begitu, tahukah Anda, justru banyak wisatawan asing yang sudah tahu lebih banyak soal keberadaan pulau eksotis ini. Sejumlah wisatawan Jepang dari Tokyo melalui travel yang ada di sana “tembak langsung” berangkat ke Singapura atau ke Sabah kemudian melanjutkan perjalanan ke Balikpapan, lalu ke Tanjung Redeb menggunakan pesawat kecil.

Mereka memanfaatkan waktu mereka selama di Derawan dengan menyelam, menyusuri keindahan bawah laut di pulau tersebut yang memang merupakan lokasi terbaik untuk olahraga selam. Apalagi dengan kondisi pulau yang terpencil dan “masih perawan” kian menambah pesona siapapun juga untuk menikmatinya selama mungkin.




Tak usah jauh-jauh, hanya dalam jarak 50 meter dari bibir pantai, kita sudah dapat menyaksikan terumbu karang yang indah dan ikan-ikan beraneka warna hilir mudik. Airnya sangat bening. Anda pun bisa menyewa snorkel seharga Rp 30 ribu per hari. Bila ingin menyelam lebih dalam, kita dapat menemukan ikan-ikan yang lebih “eksotis” seperti kerapu, ikan merah, ikan kurisi, ikan barracuda, teripang, dan kerang. Pada batu karang di kedalaman sepuluh meter, terdapat karang yang dikenal sebagai "Blue Trigger Wall" karena pada karang dengan panjang 18 meter tersebut banyak terdapat ikan trigger (red-toothed trigger fishes).

Pulau Derawan menyediakan fasilitas-fasilitas tempat penginapan (cottage), penyewaan peralatan menyelam dan juga restoran. Ada pula penginapan-penginapan bertarif murah yang dikelola oleh warga sekitar. Kisaran harganya mulai dari Rp 45 ribu sampai Rp 100 ribu/malam.


Masih belum puas?

Anda dapat meninjau juga pulau lainnya yang berada di sekitar Derawan. Misalnya: Pulau Sangalaki, Maratua, dan Pulau Kakaban yang mempunyai keunikan tersendiri. Ikan Pari Biru (Manta Rays) yang memiliki lebar mencapai 3,5 meter berpopulasi di Pulau Sangalaki. Malah bisa pula ditemui—jika cukup beruntung—ikan pari hitam dengan lebar “bentang sayap” 6 meter . Sedangkan Pulau Kakaban mempunyai keunikan yaitu berupa danau prasejarah yang ada di tengah laut, satu-satunya di Asia.

Oleh Amril Taufik Gobel

Sumber: id.travel.yahoo.com

Senggigi, Sebuah Pantai Wisata nan Elok di Lombok

Lupakanlah sejenak rutinitas pekerjaan dan kepenatan hidup dengan menikmati indahnya pesona alam Pantai Senggigi di Lombok. Salah satu pulau di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) selain Pulau Sumbawa ini memiliki pantai yang sangat terkenal dan menjadi pilihan berlibur bagi wisatawan mancanegara maupun lokal.

 
Photo credits - Tempo/Dimas Aryo


Untuk mencapai Pantai Senggigi dibutuhkan waktu kurang lebih 15 menit dari Kota Mataram menggunakan mobil. Dengan jarak sedekat itu, makin populer saja pantai eksotis ini. Senggigi telah menjelma menjadi ikon pariwisata NTB sejak diperkenalkan pada 1980. Perkembangannya sangat luar biasa jika indikatornya adalah pertumbuhan jumlah hotel, mulai dari kelas bintang tiga sampai lima berjejer dari selatan hingga utara.

Jika Bali memiliki Pantai Sanur, Kuta atau Legian, maka Pantai Senggigi dianggap mempunyai keindahan setara dengan pantai-pantai terkenal di Pulau Dewata tersebut. Pesisir pantainya asri dengan pasir putih terhampar di sepanjang hampir 10 km. Banyak aktivitas yang dapat Anda lakukan di sini, seperti berenang, bermain kano, menyelam, snorkeling atau sekadar berjemur dan menikmati pemandangan. Jika Anda ingin mengelilingi pantai Senggigi namun tidak ingin cepat lelah, Anda bisa menaiki cidomo, angkutan khas NTB yang ditarik oleh seekor kuda. Atau Anda juga dapat mengelilingi pantai dengan berjalan kaki.

 
Photo credits - Tempo/Taufik Subarkah


Suasana kian romantis ketika kita menikmati senja merah merona di batas cakrawala. Lukisan alam yang terjadi seakan menepis segala gundah dan melerai rasa letih. Lansekap jingga saat mentari terbenam begitu kontras berpadu dengan gradasi warna biru laut.

Pura Batu Bolong merupakan tempat wisata yang bisa ditemukan di pantai ini dengan berjalan kaki santai sekitar 30 menit. Pura ini dibangun di atas karang yang terletak di tepi pantai. Ada legenda yang berkembang mengenai pura di mana kita bisa melihat jelas Gunung Agung di Bali, yakni konon dahulu sering diadakan pengorbanan seorang perawan untuk dipersembahkan kepada ikan hiu di tempat ini. Ada pula legenda lain yang menyebutkan bahwa dahulu banyak para wanita yang menerjunkan diri dari tempat ini ke laut karena patah hati.

Tidak jauh dari Batu Bolong terdapat makam seorang ulama. Ini merupakan tempat suci bagi para penganut Wetu Telu. Batu Layar ramai dikunjungi pada saat Lebaran Ketupat, yang dirayakan oleh mereka yang berpuasa satu minggu setelah Idul Fitri.

Tersedia tempat penginapan yang representatif buat Anda, mulai dari hotel bintang tiga hingga bintang lima memadati kawasan pantai. Tidak hanya itu, puluhan restoran juga siap memanjakan lidah Anda selama berwisata di sana. Jangan lupa mencicipi hidangan khas Lombok berupa ayam taliwang dan plecing kangkung.

 
Photo credits - Tempo/Dimas Aryo


Untuk lebih menggencarkan promosi pariwisata kawasan ini, Pemda Kabupaten Lombok Barat setiap pertengahan tahunnya menjadwalkan penyelengaraan Festival Senggigi. Kekayaan atraksi budaya yang dipentaskan selama sepekan penuh tersebut membuat wisatawan terhibur dan kian betah untuk tinggal lebih lama.

Oleh-oleh atau cendera mata khas juga tersedia. Tepatnya di Jalan Raya Senggigi Km 7 terdapat pusat perbelanjaan berbagai cendera mata Lombok di Pasar Seni Senggigi (Art Market Senggigi). Pemprov NTB berharap ke depan, tempat ini menjadi surga belanja bagi para wisatawan yang berwisata di Lombok.

Pasar Seni Senggigi memiliki sekitar 12 kios (satu kios dihuni 4 - 6 pedagang). Kios-kios ini selesai dibangun dan diresmikan pada 11 Desember 1991 oleh Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi Soesilo Sudarman. Di sana juga terdapat sekitar 56 pedagang kecil. Kios-kios cendera mata dibangun dengan bentuk rumah adat NTB yang beratap alang-alang kering.


 
Photo credits - Tempo/Taufik Subarkah


Berbagai macam kerajinan seperti mutiara, gelang, periuk dan anyaman bisa didapatkan di Pasar Seni Senggigi yang buka mulai pukul 09.00 sampai 19.00. Pedagang jenis pengasong cendera mata banyak yang menjajakan berbagai aksesoris hingga di area pantai. Harga yang ditawarkan bervariasi mulai dari Rp 10 ribu s/d Rp 100 ribu.

Tidak terlalu sulit sebenarnya mencapai Pantai Senggigi. Jika Anda berangkat dari Bali, tiba di Pelabuhan Lembar, Anda bisa langsung menuju pantai Senggigi menggunakan bis 3/4 atau mencarter mobil bersama penumpang lainnya. Sementara dari Jakarta dan kota besar lainnya, tiba di bandara Lombok, Anda dapat menaiki taksi yang akan mengantar ke hotel tempat Anda menginap. Dari Ampenan, Anda bisa menaiki bemo yang tersedia mulai pukul 06.00 pagi hingga 19.30 dengan biaya sekitar Rp. 1,500 jurusan Ampenan-Senggigi, atau Senggigi-Ampenan.

Oleh: Amril Taufik Gobel

Sumber: id.travel.yahoo.com

Wednesday, February 9, 2011

Patih Laman, Sang Pahlawan Rimba dari Riau

 
Patih Laman 
 
 Keteguhannya dalam mempertahankan alam dan isinya, Patih Laman mendapatkan penghargaan dari WWF Internasional dan Kalpataru dari Presiden Megawati Soekarnoputri. Namun pria gaek ini pernah tersirat untuk mengembalikan piala kalpataru kepada pemerintahan SBY karena kecewa hutan suku pendalaman Talang Mamak terus dijarah.

Tubuhnya yang kecil dibalut kulit sawo matang, Laman kini kondisinya sering sakit-sakitan. Pak tua ini jiwanya terus gelisah melihat piala kalpataru yang pernah diberikan pimpinan tertinggi di negeri ini. Piala kalpataru itu seakan momok yang menakutkan bagi dirinya.

Bagaimana tidak menakutkan, kalpataru itu sebuah amanah yang dititipkan negara kepadanya selaku orang pelindung dan pencinta alam. Tapi bagi Laman, kalpataru itu sudah tidak ada gunanya lagi. Sebab, pemerintah tidak mampu membendung laju kerusakan hutan alam di kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) dimana komunitas suku pedalaman Talang Mamak berada.

"Buat apa kalpataru ini, kalau toh hutan kami terus dijarah. Saya sudah tua, tak mampu lagi membendung lajunya kerusakan hutan itu. Tak ada gunanya kalpataru ini diberikan kepada saya, kalau  hutan kami juga terancam punah," keluh Patih Laman dalam perbincangan dengan detikcom.

Namanya sebenarnya hanya Laman. Sedangkah Patih, sebuah gelar tertinggi di suku Talang Mamak. Maka, lengkaplah namanya dikenal dengan sebutan Patih Laman yang kini usinya sekitar 80 tahun. Tapi dia tidak tahu persis tanggal, bulan dan tahun berapa dia lahirkan.

Patih Laman ini terlahir Desa Durian Cacar, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Sebagaimana masyarakat Talang lainnya, Patih Laman juga tidak mengenal huruf dan angka. Dia bercerita, era Soeharto, dia tegak berdiri dan siap mati di depan ratusan truk pengangkut balak liar. Sebagai tampuk pimpinan adat, dia berdiri paling depan menghadapi truk pengangkut balak liar yang dikawal dengan aparat bersenjata.

Waktu itu, Laman memerintahkan mereka untuk menurunkan kayu-kayu gelondongan. Karena mereka, para pembalak liar ini telah mengambil hasil hutan tanpa izin dari pemiliknya, yakni suku Talang Mamak. Kesabaran pemimpin adat Talang Mamak ini sudah benar-benar habis.

"Kami sudah cukup bersabar, melihat hutan kami terus dijarah. Pahal hutan merupakan tempat anak-anak kami belajar. Waktu itu tak ada cerita negosiasi. Yang ada cuma, kayu harus diturunkan. Bila tidak, maka langkahi dulu mayat saya,” kata ayah dari empat anak dan suami dari Saeyam itu mengenak masa lalunya yang masih mampu menghalangi pembalakan liar.

Begitulah terus menerus Laman menghadapi pembalakan liar di desanya. Itu sebabnya, suku Talang Mamak memberinya gelar Patih, sebagai tokoh religius dan petinggi adat higga sekarang. Sejak saat itu lelaki yang berambut putih yang panjangnya sepinggang dan berkacamata tebal ini dikenal dengan sebutan Patih Laman. Sikapnya yang konsisten dan tegas membuatnya juga dipanggil "Pak Garang".

Sikap Patih Laman yang tegas terhadap pembalakan liar ini, berhasil meyakinkan para pembuat kebijakan daerah dan dunia internasional tentang arti penting hutan bagi keturunan suku Talang Mamak. Sebuah sejarah baru mengukir, Patih Laman yang dikenal juga sebagai “orang pintar” pada November 1999 silam, mendapat anugrah tertinggi dari World Wide Fund for Nature (WWF) International for Conservation. Ia dianugerahi sebagai tokoh yang berhasil mempertahankan kawasan hutan beserta adat istiadat masyarakat yang dipimpinnya. Penghargaan itu diberikan di Sabah, Malaysia.

Laman bercerita, sebagai orang yang hidup di pedalaman, dia juga bingung ketika diajak ke Malaysia untuk menerima penghargaan dunia internasional itu. Maklumlah, yang namanya berangkat keluar negeri, tentulah harus memiliki beberapa bersyaratan. Misalnya, KTP, dan paspor agar bisa menyeberang ke negeri jiran itu.

"Kalau bukan karena berangkat ke Malaysia, mungkin saja tidak punya KTP sampai sekarang. Sejak saya lahir, baru tahun 1999 itulah saya memiliki KTP. Dan ketika  menerima penghargaan di Malaysia yang diberikan orang-orang bule itu, saya sendiri tidak tahu apa-apa. Saya mendapat sorakan yang gemuruh, tapi saya juga bingung harus ngomong apa," kata Laman polos mengenang masa lalunya.

Bila mengenang masa lalu, maka kakek ini, memilih lebih enak hidup semasa kepemimpinan Presiden Soekarno. Menurut Patih Laman, masyarakat Talang Mamak lebih banyak tahu tentang perjuangan Soekarno. Walau mereka di dalam hutan, tak sedikit pula di rumah penduduk Talang Mamak terpampang foto Soekarno.

Padahal ketika Belanda masih berkuasa, tak sedikit pula hutan alam mereka dijarah penjajah. Suku Talang Mamak juga tidak bisa berbuat banyak melihat hasil hutan alam di Indragiri diboyong ke negeri penjajah.

“Tapi begitu Indonesia merdeka, saya masih ingin Pak Karno lewat karesidenan di Indragiri memberikan hak penuh atas tanah ulayat kami sendiri. Tapi, begitu zaman Soeharto dan sampai sekarang, tanah ulayat kami pun luluh lantak (hancur) dijadikan perkebunan dan HPH,” kata pengagum Soekarno itu.

Pada masa Orde Baru, pencaplokan lahan Talang Mamak merupakan yang paling besar. Setiap kali ada pembukaan perkebunan dan pemberia areal HPH, Laman selalu protes. Mulai tingkat desa, kecamatan, bupati sampai ke gubernur. Laman terus maju melawan pemerintah yang dengan gampangnya memetakan habitat mereka dijadikan perkebunan. Tapi semua itu tidak pernah digubris.

Malah, kata Patih Laman, sakin getolnya melakukan perlawanan pada masa Orde baru, dia pun dicap sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh pemerintah Provinsi Riau di tahun 1990-an. Tuduhan sebagai anggota PKI itu disampaikan Gubernur Riau waktu itu Soeripto dari TNI AD ketika Patih Laman membawa kelompoknya berdemo menolak pelepasan kawasan hutan.

"Waktu kami demo ke kantor gubenur, kami dituduh PKI. Saya jawab gampang saja. Pak Gubernur, kami ini buta huruf, tak tahu apa itu PKI. Karena bapak yang tahu apa sebenarnya  PKI, berarti bapak Gubernurlah yang PKI itu,” kata lama yang membuat Gubernur Riau Soeripto tertegun diam seribu bahasa saat itu.

Kakek yang tengah mempersiapkan anak lelakinya sebagai penggantinya dalam memimpin suku Talang Mamak ini juga berhasil mendapat perhatian nasional. Laman memperoleh penghargaan Kalpataru yang langsung disampaikan Presiden Megawati Soekarnoputri, 5 Juni 2003, di Istana Merdeka. Ia dinilai layak dinobatkan sebagai tokoh perintis yang mampu menggerakkan warga di sekitarnya untuk mempertahankan hutan mereka.

"Walau Patih Lama itu buta huruf,  tapi pikiran malah sangat terbuka. Dia menjalin hubungan hingga ke Istana Presiden dan DPR di Jakarta ketika pendekatan pada pemimpin daerah sudah menemui jalan buntu. Dia juga mengembangkan kerja sama dengan organisasi kemanusiaan dan pemerhati lingkungan yang independen, seperti Komnas HAM serta LSM Alam Sumatera, hingga WWF," kata Mangara Silalahi, Direktur Alam Sumatera.

Kini, Patih Laman menginginkan keseriusan Presiden SBY, untuk menyelamatkan sisa hutan yang tersisa di TNBT. Tak berguna, kalpataru berada di tangan Patih Laman, jika hutan mereka terus dijarah untuk perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri. Sekarang, kita tunggu keseriusan SBY dalam menyelamatkan hutan. Tapi jika gagal, gakanya perlu masyarakat luas mendukung Patih Laman untuk segara mengembalikan kalpataru kepada pemerintah.

Sumber: detiknews.com

Tumenggung Tarib, Pahlawan Lingkungan dari Orang Rimba

 
Pahlawan lingkungan dan Kalpataru
Suku Orang Rimba, menyebar di kawasan hutan di Provinsi Jambi. Dari sana terlahir seorang yang wajar rasanya menjadi panutan anak bangsa. Dia adalah Tumenggung Tarib (50) yang pernah meraih penghargaan Kehati Award dan Kalpataru. Sosok Orang Rimba ini selain konsisten menyelamatkan kawasan hutan, juga telah menemukan ramuan obat-obatan tradisional.

Orang Rimba, begitulah mereka senang disebut sebagai penduduk yang berada di kawasan hutan belantara di Jambi. Masyarakat kebanyakan dulunya mengenal mereka
sebagai komunitas Suku Kubu. Namun sejujurnya masyarakat ini lebih senang jika dijuluki Orang Rimba.

Tumenggung Tarib berasal dari Desa Pematang, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangon, Jambi.  Dia hidup di kawasan penyanggah Taman Nasional Bukit Duabelas yang harus ditempuh dengan kendaraan sekitar 7 jam dari Kota Jambi. Dia merupakan pendekar hutan yang sampai sekarang teguh menyelamatkan sisa hutan dari lajunya pembalakan liar. Di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), hidup secara damai 6.500 jiwa Orang Rimba.

Tumenggung Tarib mengajak komunitasnya untuk menghalau semua bentuk perambahan hutan demi anak cucu mereka dan sebenarnya demi anak cucu bangsa Indonesia. Alam merupakan habitat yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka sehari-hari.

Komunitas Suku Rimba pada umumnya sampai sekarang masih memeluk animisme. Namun Tarib, pada tahun lalu dengan kesadarannya sendiri tanpa ada paksaan dari pihak lain, telah memutuskan untuk mualaf. Kini sosok tokoh adat itu telah memeluk Islam.

Tarib juga dikenal sebagai orang yang merintis konsep Hompongan yakni kegiatan penanaman karet untuk masyarakatnya. Tarib berharap masyarakatnya tidak lagi hidup dengan cara berpindah-pindah. Dia menginginkan dengan pembukaan kebun karet, masyarakat bisa mendongkrak perekonomiannya.

Mengajak Orang Rimba untuk bercocok tanam, bukan hal yang mudah. Sebab, sudah ratusan tahun lamanya, suku pedalaman ini hidup berpindah-pindah dengan mata pencarian memburu di tengah kawasan hutan. Tarib harus berjuang keras menyakinkan komunitasnya untuk dapat menatap hidup yang lebih baik lagi tanpa harus memboyong keluarganya dengan nomade dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Malah tak jarang, Orang Rimba di kawasan Jambi dalam perjalanan kehidupannya sampai ke Wilayah Riau. Orang Rimba tidak mengenal batas wilayah, mereka hidup terus menerus berpindah-pindah di dalam kawasan hutan.

Tarib tidak mengenal lelah, memperkenalkan program penanaman karet untuk kehidupan baru di lingkungan masyarakatnya. Mereka terus belajar hidup berdampingan dengan masyarakat pada umumnya. Walau harus diakui, tidak sedikit pula di antara Orang Rimba harus kalah bersaing hidup berdampingan dengan masyarakat lainnya.

Kondisi ini membuat sebagian kelompok Orang Rimba ada yang menjadi pengemis di jalan lintas Sumatera. Mereka seakan menjadi manusia yang terpinggirkan di alamnya sendiri. Mereka yang menjadi pengemis ini berasal dai masyarakat di Taman Nasional Bukit Duabelas dari kelompok Tumenggung Tarib. Sulitnya mencari kehidupan memaksanya menjadi mengemis. Malah kabarnya kini sebagian Orang Rimba sudah ada yang menjadi pengemis di Kota Jambi.

Tarib, pria berkulit hitam juga telah menemukan berbagai jenis obat-obatan tradisional. Berbagai uji coba untuk meramu obat-obatan ini dia tekuni turun temurun tanpa kenal lelah dan tanpa kenal pamrih. Eksperimennya tidak pernah berhenti untuk menyalurkan bakatnya dalam meramu obat-obatan dari jenis pohon dan satwa. Hasilnya patut kita acungin jumpol. Ratusan ramuan obat-obatan sudah berhasil dia temukan.

Mulai obat-obatan untuk menambah energi, obat masuk angin, kosmetik dan berbagai jenis lainnya. Hasil eksperimennya walhasil dilirik tim biomedika dari Indofarma, LIPI, IPB Bogor, dan UI. Dan kini ramuan Tarip menjadi resep obat-obatan di tanah air kita. Terakhir biomedika dari Jepang turun tangan untuk meneliti hasil karya Tarib.

"Yang kita ketahui, terakhir tahun lalu tim biomedika dari Jepang meneliti hasil ramuan obat-obatan Tarip. Sayangnya sudah setahun ini kita belum menerima kabar hasil lab dari tim medika Jepang itu," kata Program Manajer Kebijakan dan Advokasi, Warsi, Diki Kurniawan dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (9/02/2011).

Karya Tarib yang begitu menakjubkan itu, tidak ada salahnya bila lembaga bidang lingkungan Kehati memberikan Kehati Award pada dirinya. Sosok pria yang sempat dua kali menikah karena istri pertamanya meninggal dunia ini meraih Kehati Award semasa Presiden Megawati Soekarnoputri.

Orang Rimba merupakan suku asli yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Bukit  Duabelas. Kawasan yang luasnya 60.500 ha ini telah di diami komunitas Orang Rimba sejak nenek moyangnya dan merupakan tersisa hutan sekarang ini dari keseluruhan kawasan pengembaraan suku Orang Rimba dimasa lalu. Tingginya laju deforestasi dan konversi kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan telah menjadikan sebagian besar Orang Rimba menjadi sangat marginal karena kehilangan hak atas sumber daya dan tanah.

Karena itu hutan dalam kawasan TNBD menjadi sentra terakhir keberlanjutan budaya dan penghidupan Orang Rimba. Karena itu Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin mengusulkan kawasan hutan tersisa ini menjadi kawasan Penghidupan Orang Rimba dan disetujui Menteri Kehutanan sebagai wilayah penghidupan dan kehidupan Orang Rimba melalui SK 258/Kpts-II/2000 Agustus 2000.

Perjalanan panjang perjuangan kawasan TNBD untuk menjadi kawasan hak hidup Orang Rimba tidak terlepas dari sejarah dan peran Temenggung Tarib. Nama Tarip sendiri diberikan oleh para dukun rimba terdahulu yang bermakna 'kearifan', yang berarti tempat berkumpulnya segala kebaikan dan kebajikan. Ia adalah salah seorang Tumenggung Orang Rimba yang sangat gigih dalam memperjuangkan kawasan hutannya. Pemimpin kelompok Orang Rimba di Sungai Pakuaji, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun ini, bagai tak bisa dipisahkan dari Taman Nasional Bukit Duabelas: Orang Rimba butuh TNBD yang menyimpan sumberdaya pencarian mereka, dan sebaliknya, TNBD juga butuh pelestarian dan pengamanan dari mereka.

Kegigihan dalam mempertahankan TNBD itu yang membawa Temenggung Tarib dan kelompoknya mendapat penghargaan, Kalpataru 2006 dari Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia yang diserahkan langsung oleh Presiden Bapak SBY di Istana Negara. Anugerah itu diberikan karena menilai Tarib, bersama anggota kelompoknya, melakukan kegiatan yang mampu menyelamatkan hutan alam dan keanekaragaman hayati yang ada di dalam dan sekitar TNBD.

Tarib juga beberapa kali ikut dalam pertemuan Masyarakat Adat Nusantara di Jakarta. Tarip dalam pertemuan yang dengan lantang meminta keseriusan pemerintah mengakui komunitas masyarakat adat. Pemerintah diminta memberikan jaminan hidup masyarakat adat dari lajunya kerusakan hutan baik dari perambahan maupun kebijakan pemerintah yang serampangan dalam memberikan perizinan pelepasan kawasan hutan. "Tarib tidak pernah lelah berjuang untuk menyelamatkan hutan," kata Diki Kurniawan aktivis Warsi itu.

Begitu besarnya Orang Rimba telah menyuguhkan ramuan obat untuk bangsa ini. Sayangnya, pemerintah saat ini masih cenderung memandang sebelah mata atas komunitas adat. Masih banyak Orang Rimba tidak mengenyam pendidikan sebagaimana masyarakat pada umumnya. Mereka masih terpinggirkan, masih belum tersentuh secara total soal kebijakan pemerintah untuk mengangkat harkat dan martabat Orang Rimba. Mereka masih miskin akan fasilitas publik sebagaimana yang dirasakan masyarakat pada umumnya.

Padahal mereka ini membutuhkan sarana pendidikan yang layak untuk anak dan cucu mereka. Orang Rimba juga sadar, mereka tidak mau generasinya terus menerus menjadi santapan orang yang pintar. Mereka juga mengharapkan adanya perhatian pemerintah soal kesehatan. Sekarang kita tunggu keseriusan pemerintah untuk menyelamatkan kawasan hutan demi anak cucu Orang Rimba dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Sumber: detiknews.com

Sunday, February 6, 2011

8 Fakta Unik Tentang Dinosaurus

Dinosaurus pernah menguasai bumi berjuta-juta tahun yang lalu. Namun di Indonesia, jejak hewan raksasa itu belum pernah terlihat. Fosil dinosaurus kerap ditemukan di benua Amerika dan Amerika Selatan.

Meski demikian, tidak ada salahnya mengetahui sejumlah fakta unik tentang dinosaurus, mahluk yang sempat dipopulerkan oleh sutradara kawakan, Steven Spielberg, dalam trilogi Jurassic Park-nya.  Seperti berikut ini:

1. Brachiosaurus
8 Fakta Unik Tentang Dinosaurus





Brachiosaurus adalah jenis dinosaurus paling berat badannya. Dari peninggalan fosilnya, para paleontolog, memperkirakan berat Brachiosaurus setara dengan 17 ekor gajah Afrika. Brachiosaurus memiliki tinggi 16 meter dan panjang 26 meter.


2. Lesothosaurus
8 Fakta Unik Tentang Dinosaurus


Bila ada dinosaurus terbesar, tentu ada dinosaurus terkecil. Dari penemuan fosil, para ahli menemukan Lesothosaurus. Hewan ini sejenis unggas, besarnya tak lebih dari ayam.


3. Troodon
8 Fakta Unik Tentang Dinosaurus




Meski binatang, bukan berarti dinosaurus tak punya otak. Dari fosil tengkorak yang ditemukan para ahli, diperkirakan dinosaurus 'terpintar' adalah jenis Troodon. Binatang ini adalah dinosaurus pemburu. Panjangnya dua meter, memiliki otak sebesar burung modern, pandangan mata stereoscopic, dan sejenis tangan yang bisa menggenggam.


4. Stegosaurus 
8 Fakta Unik Tentang Dinosaurus


Sementara kebalikan dari Troodon, adalah dinosaurus dengan otak paling kecil. Otak Stegosaurus panjangnya hanya tiga centimeter dan beratnya 75 gram, namun badannya bongsor.


5. Sauropseidon
8 Fakta Unik Tentang Dinosaurus


Bagaimana dengan dinosaurus tertinggi? Nama jenisnya Sauropseidon. Kaki depan binatang ini lebih panjang dari kaki belakangnya. Membuat mereka terlihat seperti jerapah. Ditambah lagi leher mereka cukup panjang yang bisa digunakan untuk menggapai pucuk pohon tertinggi. Salah satu jenis tertinggi yang pernah ditemukan mencapai 18,5 meter.



6. Dromiceiomimus
8 Fakta Unik Tentang Dinosaurus


Dinosaurus juga bisa berlari cepat. Salah satu yang tercepat adalah nenek moyang burung onta, bernama Dromiceiomimus. Diperkirakan dengan kakinya yang lincah, hewan ini bisa berlari sampai 60 kilometer per jam.


7. Eoraptor
8 Fakta Unik Tentang Dinosaurus

Perkenalkan Eoraptor. Dia adalah dinosaurus yang umurnya paling tua di dunia. Hidup sekitar 228 juta tahun yang lalu. Fosilnya ditemukan di Kepualauan Madagaskar.


8. Micropachycephalosaurus
8 Fakta Unik Tentang Dinosaurus

Terakhir, mendengar namanya saja susah. Inilah dinosaurus dengan nama paling panjang: Micropachycephalosaurus, yang artinya 'kadal berkepala tebal'. Fosilnya ditemukan di Cina pada 1978.

Sumber: republika.co.id

Ancam Komodo, Todung Nilai Panitia "new7wonders" Aneh

Ancam Komodo, Todung Nilai Panitia new7wionder Aneh
Komodo

Panitia New7wonders menangguhkan Pulau Komodo sebagai finalis calon 7 keajaiban dunia. Pemerintah mengambil langkah hukum atas perlakukan semena-mena itu.

Pengacara kawakan, Todung Mulya Lubis, ditunjuk Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sebagai kuasa hukum pemerintah. Todung menyatakan penangguhan itu sama sekali tidak berdasar.

Panitia new7wonders tidak memiliki wewenang untuk membuat keputusan tersebut. "Itu kan hasil pemungutan suara," katanya ketika dihubungi Republika, Ahad (6/2).

Konsekuensinya, lanjut dia, hanya masyarakat yang mengajukan pilihan yang berhak memutuskan siapa yang menjadi finalis atau tidak. “Mereka tidak punya hak,” tambahnya.

 

Komodo di Posisi Aman untuk Jadi 7 Keajaiban Dunia

  
Komodo di Posisi Aman untuk Jadi 7 Keajaiban Dunia
Komodo

Komodo (varanus comodoensis) menempati peringkat enam pada pekan terakhir Desember 2010 untuk menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia yang baru. Posisi ini dinilai berdasarkan suara dari pemilih yang diukur dalam 28 hari terakhir.

"Laporan dari New7 Wonder Foundation bahwa kriteria minggu ini adalah tingginya tingkat minat pemilih yang diukur dalam 28 hari terakhir, di mana Komodo menempati peringkat enam," kata Kepala Bidang Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ubaldus Gogi, di Kupang, Selasa (4/1).

Pihaknya secara terus menerus mendorong masyarakat di seluruh Tanah Air untuk ikut berpartisipasi memberikan suara agar posisi Komodo tetap bertahan pada peringkat satu sampai tujuh. "Kami yakin komodo akan lolos menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia," katanya.

Pada 21 Juli 2009 melalui situs New7 Wonders Foundation, komodo diumumkan  menjadi salah satu dari 28 finalis tujuh keajaiban dunia. Binatang purba terakhir di muka bumi ini menyisihkan sekitar 440 nominasi dari 220 negara.

 

Ayo Dukung Terus, Posisi Komodo Kian Mantap

   
Ayo Dukung Terus, Posisi Komodo Kian Mantap
Komodo

PosisiTaman Nasional Komodo (TNK) dan penghuninya (varanus commodoensis), di ujung barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur semakin kuat dalam persaingan memperebutkan salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

"Posisi Komodo sekarang sangat kuat, bahkan pekan lalu sempat berada pada posisi pertama," kata Kepala Bidang Promosi Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ulbadus Gogi, di Kupang, Kamis (23/12) ketika ditanya posisi terakhir dalam memperebutkan posisi salah satu dari tujuh keajaiban dunia (new7 wonders).

Gogi mengatakan sejak diumumkan 21 Juli 2009 oleh New7 Wonders Foundation bahwa Komodo masuk sebagai salah satu finalis,pemerintah terus melakukan sosialisasi untuk meminta dukungan. TNK masuk dalam 28 finalis yang berhak melanjutkan ke tahap final setelah menyisihkan kurang lebih 440 nominasi dari 220 negara,

Permintaan dukungan ini tidak hanya kepada rakyat NTT, tetapi juga kepada seluruh masyarakat Indonesia, karena masuknya binatang purba dalam tujuh keajaiban dunia tidak hanya memberi dampak bagi masyarakat di provinsi kepulauan itu, tetapi untuk Indonesia secara keseluruhan.

"Kita memang gencar (promosi). Sejak 2009 lalu Gubernur NTT Frans Lebu Raya menugaskan kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan NTT keliling ke sejumlah provinsi di Tanah Air untuk memberikan penjelasan mengenai pososi Komodo sekaligus meminta dukungan dan saat ini dukungan terus mengalir," katanya.

Dia mengakui pada Juni 2010 lalu, posisi Komodo sempat terancam karena berada pada posisi ke-14 tetapi berkat perjuangan dan dukungan semua pihak, saat ini posisi Komodo sangat kuat.

"Sekarang ini posisi Komodo naik turun. Terkadang di posisi satu, turun dua dan sampai batas tiga. Dalam satu bulan terakhir ini tidak pernah beranjak dari posisi tiga," katanya.

"Kita masih memiliki cukup waktu, tetapi dukungan tidak bisa hanya dari masyarakat NTT. Seluruh masyarakat Indonesia harus memberikan dukungan penuh," katanya. Tanpa dukungan dari seluruh elemen masyarakat Indonesia, harapan untuk menjadikan Komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia bakal hanya tinggal harapan.
Sumber: republika.co.id

LSM Asing Mau 'Memeras' Indonesia Lewat Pulau Komodo

LSM Asing Mau 'Memeras' Indonesia Lewat Pulau Komodo
Komodo


Pengumuman yang dikeluarkan "The New7Wonders Foundation"--lembaga internasional yang tengah menyelenggarakan pemilihan tujuh keajaiban dunia--pada 31 Januari lalu, begitu mengejutkan, karena akan menangguhkannya sebagai salah satu finalis Tujuh Keajaiban Dunia.

"Kami akan mengambil sikap untuk menentukan nasib Komodo (varanus commodoensis) pada 7 Februari mendatang," kata Presiden The New7Wonders Foundation Bernard Weber dalam laman resminya www.new7wonders.com.

Lembaga yang bermarkas di Swiss itu mengutarakan alasan mereka menangguhkan Komodo dari Tujuh Keajaiban Dunia, karena salah satu pihak telah "melanggar komitmen hukum dan perjanjian resmi" yang telah disepakati.

Menurut Bernard Weber, pelanggaran tersebut berupa tidak dihormatinya kesepakatan yang menetapkan Jakarta sebagai tempat pengumuman resmi Tujuh Keajaiban Dunia pada 11 November 2011, dan menuduh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia sebagai pihak yang tidak serius menanggapi pelanggaran dimaksud.

Dengan nada enteng, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan, "Tidak masalah jika Pulau Komodo yang dihuni biawak raksasa Komodo itu dihapus dari daftar pemilihan Tujuh Keajaiban Dunia Baru".

"Kita (Indonesia) tetap mempromosikan Komodo meski dihapus dari daftar pemilihan new7wonders," kata Menteri Jero Wacik kepada pers di Jakarta, Rabu (2/2). Jero Wacik menjelaskan The New7Wonders Foundation berkeinginan untuk menangguhkan Komodo dari Tujuh Keajaiban Dunia Baru, karena Indonesia tidak bersedia mengeluarkan dana 45 juta dolar AS untuk menjadi tuan rumah puncak pemilihan pada 11 November 2011.

Menteri menuturkan bahwa ia dihubungi oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) penyelenggara survai new7wonders jika Indonesia menjadi tuan rumah maka perkiraan biaya yang dibutuhkan 45 juta dolar atau sekitar Rp400 miliar.

"Saya berhitung layak tidak mengeluarkan Rp400 miliar untuk jadi tuan rumah..., tidak sampai hati kalau mengeluarkan 45 juta dolar itu," katanya tentang pemilihan tujuh keajaiban dunia baru dari 28 kandidat.

Menurut Jero, jika Indonesia tidak bersedia menjadi tuan rumah tentunya masih ada 27 negara yang lain sehingga dia menyampaikan keberatan karena terlalu mahal biayanya.
Namun, kata dia, yayasan tersebut justru mengancam akan menghapus Pulau Komodo dari daftar pemilihan jika Indonesia tidak bersedia menjadi tuan rumah.

"Mereka mengatakan wah Indonesia kalau tidak mau jadi tuan rumah nanti bisa dihapus...Rupanya mereka mengancam Indonesia, mereka bilang kita akan hilangkan itu (Pulau) Komodo," ujarnya.

Menbudpar mengaku ancaman itu menyebabkan rasa nasionalismenya bangkit. Ia kemudian mempertanyakan keabsahan yayasan tersebut dan menulis surat kepada LSM itu. "Saya tulis surat tadi, mereka bilang tunggu, tanggal 7 Februari akan divonis," ujarnya.

Namun, menurut Jero Wacik, sejak Indonesia giat mengkampanyekan Pulau Komodo, kawasan tersebut makin terkenal dan pemerintah tetap akan melanjutkan promosi.

Presiden The New7Wonders Foundation Bernard Weber bahkan menulis surat pribadi kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, meminta agar permasalahan ini segera diselesaikan. "Saya percaya Anda memiliki visi, keberanian, dan kapasitas untuk menyelesaikan permasalahan yang menjadi keprihatinan utama dari seluruh rakyat Indonesia," demikian tulis Weber dalam suratnya.

Kepala Bidang Promosi Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Nusa Tenggara Timur (NTT) Ubaldus Gogi menjelaskan capaian peringkat Komodo pada posisi ke-10 itu berdasarkan penilaian foundation dengan menggunakan kriteria umum atau murni suara dukungan terhadap 28 finalis yang masuk.

Posisi Komodo selama Januari mengalami fluktuasi. Pada 3 Januari, Komodo menempati peringkat sembilan, tanggal 10 Januari peringkat sepuluh, tanggal 17 Januari peringkat enam dan pada 31 Januari menempati peringkat 10.

Untuk pemilih tingkat internasional, kata Gogi, Komodo hanya mampu meraih 60,62 persen suara dari 28 finalis new7wonders dan berada di peringkat ke-26. Finalis tujuh keajaiban baru dunia (New7Wonders) yang meraih pemilih terbanyak internasional adalah Kalimanjoro meraih suara internasional 99,96 persen, Mud Volcanoes 99,82 persen, Galapagos 99,76 persen, Cliffs of Moher 99,65 persen, Miford Sound 99,62 persen.

Berikutnya, Black Forest 99,59 persen, Vesuvius 99,50 persen, El Yuque 99,45 persen, Maldives 99,40 persen, Great Barrier Reef 99,16 persen, Uluru 99,15 persen, Dead Sea 99,06 persen. Selanjutnya, Jelita Groto 98,54 persen, Table Mountain 97,20 persen, Bay of Funday 97,14 persen, Masurian Lake District 95,82 persen, Grand Canyon 95,51 persen, Angel Falls 95,27 persen, Amazon 93,38 persen dan Yushan 92,92 persen.

Tiga finalis yang meraih suara pada kisaran 80-an persen masing-masing Puerto Princesa Underground River meraih 86,42 persen, Halong Bay 86,38 persen dan Iguazu Falls 86,30 persen.

Sumber: republika.co.id

Thursday, February 3, 2011

Taman Nasional Bantimurung

Sedang murung atau sedih? Jangan risau.

“Banting saja kemurunganmu di Bantimurung,” seloroh kawan saya saat kami bercakap mengenai obyek wisata andalan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Jaraknya lebih kurang 45 km dari Kota Makassar.

Dan memang benar, selama saya melewatkan masa SMA di Maros dulu (1986-1989), Bantimurung menjadi pilihan berwisata bagi kami sekeluarga dan teman-teman sekolah. Selain memang tempatnya dekat, air terjun serta obyek wisata lain yang ada di sekitarnya menawarkan keindahan. Kemurungan itu rasanya bagai terbanting. Dari pusat kota Maros, Bantimurung sudah dapat dijangkau dengan waktu lebih kurang 20 menit dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum.

Secara geografis objek wisata Bantimurung memiliki luas wilayah mencapai 6.619,11 km2 Memasuki kawasan ini, kita akan disambut oleh sebuah gapura besar dengan kupu-kupu raksasa, diikuti patung kera berukuran jumbo. Ini menandakan Bantimurung merupakan habitat asli kupu-kupu dan kera.

 
Photo credits - TEMPO/Ayu Ambong

Air terjun jatuh perlahan melalui batu cadas dari ketinggian 15 meter dan lebar 20 meter menyajikan nuansa alam yang khas. Selain pemandangan alam yang indah, air terjun ini juga dimanfaatkan oleh pengunjung untuk kegiatan mandi atau sekadar untuk merasakan percikan sejuk air pegunungan.

Di sekitar air terjun, terdapat cekungan-cekungan sungai yang biasa dimanfaatkan pengunjung untuk berenang. Di sebelah kiri air terjun terdapat jalan wisata dan tempat duduk permanen yang membatasi jalan dengan sungai, terusan dari air terjun. Biasanya pengunjung yang datang sekadar mengabadikan gambar panorama air terjun. Di sebelah kanan air terjun, terdapat areal yang cukup landai untuk berkumpul bersama keluarga dengan menggelar tikar sambil menikmati pemandangan. Pengunjung juga bisa duduk di bawah pepohonan rindang atau mandi di air terjun.

 
Photo credits - TEMPO Zulkarnain

Taman Wisata Alam Bantimurung secara umum bergelombang sampai berbukit-bukit. Batuan kapur membentuk bebukitan terjal di kanan kiri sungai. Daerah datar terletak di bagian selatan, tempat terdapatnya air terjun dan kolam. Daerah datar lainnya yang mempunyai panorama cukup menarik terletak di bagian utara taman wisata alam, dapat ditempuh melalui jalan setapak dari air terjun. Vegetasi yang terdapat di Taman Wisata Alam Bantimurung adalah tipe hutan hujan pegunungan yang didominasi oleh famili Liniaceae, antara lain; jambu hujan (Eugenia sp), jabon (Anthocepalus cadamba), pala-pala (Mangifera sp), enau (Arenga pinnata), centana (Pterocarpus indicus) dan lain-lain.

 
Photo credits - TEMPO Zulkarnain

Selain menikmati pesona air terjun Bantimurung, terdapat objek wisata lain di sekitar kawasan ini yakni goa mimpi dan goa batu. Goa Mimpi merupakan salah satu tempat yang digemari. Di dalam goa terdapat stalaktit (relief batu yang terbentuk dari tetesan air dan menggantung di atas langit-langit goa) indah dengan kumpulan kristal. Bening dan mampu memantulkan cahaya. Di sekelilingnya diterangi lampu sehingga memperindah suasana dalam goa. Inilah yang membuatnya disebut goa mimpi karena ketika berada di dalamnya, kita seakan-akan berada dalam mimpi.

Untuk menuju Goa Batu dibutuhkan stamina yang prima meskipun pengelola sudah membuatkan anak tangga setinggi 10 meter. Perjalanannya cukup jauh dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 20 menit. Namun setelah tiba, segala kelelahan segera terbayar dengan pemandangan indah serta air terjun kecil yang begitu asri. Belum lagi keindahan di dalam goa dengan stalaktit dan stalagmite sepanjang lorong 30 meter.

 
Photo credits - TEMPO Rully Kesuma

Pada 1856 – 1857, Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di Indonesia untuk meneliti berbagai jenis kupu-kupu, termasuk kupu-kupu Bantimurung. Menurut Wallace, Bantimurung merupakan The Kingdom of Butterfly karena ditemukan beragam spesies kupu-kupu langka yang jarang terdapat di daerah lain. Berbagai jenis kupu-kupu yang terdapat di kawasan tersebut antara lain dari family Saturnidae, Nocturnidae, Spingidae dan Nyphalidae. Jenis kupu-kupu tersebut menurut para ahli hanya terdapat di Taman Wisata Alam Bantimurung. Menurut Matimu (1977) dan Achmad (1998) dalam Buku Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (2006), terdapat 103 jenis kupu-kupu yang ditemukan di sana, dan sebaran kupu-kupu jenis komersil seperti Troides haliptron dan Papilio blumei adalah dua jenis endemik yang mempunyai sebaran sangat sempit, yaitu hanya pada habitat berhutan di pinggiran sungai.

Untuk menjaga kupu-kupu dari kepunahan, pemerintah setempat membuat penangkaran di lokasi ini, dan tentunya menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung. Selain penangkaran, ada juga museum kupu-kupu sebagai informasi dan pusat data kupu-kupu yang hidup di alam Bantimurung. Sebelum pulang jangan lupa untuk membeli oleh-oleh kupu-kupu indah Bantimurung yang sudah diawetkan dalam bingkai kaca dengan jumlah variatif. Oleh-oleh ini bisa dipajang di dinding rumah sebagai kenangan dan tanda bahwa Anda sudah mengunjungi “Kerajaan Kupu-Kupu” di Bantimurung.

 
Photo credits - TEMPO Zulkarnain

Untuk menikmati kesejukan dan keindahan Bantimurung, pengunjung cukup membayar retribusi karcis sebesar Rp 5000 untuk dewasa dan Rp 3500 bagi anak-anak. Bagi Anda yang ingin berlama-lama di sini, tersedia fasilitas penginapan dengan kisaran harga antara Rp 40 ribu sampai Rp 60 ribu plus fasilitas televisi di dalamnya.

Selamat membanting kemurungan di Bantimurung!

Oleh Amril Taufik Gobel  

Sumber: yahoo.com

Thursday, January 27, 2011

Cheetah Iran, Satu-satunya Spesies Tersisa di Asia

Cheetah Asia berpisah dengan cheetah lain yang tinggal di Afrika, 30 ribu tahun yang lalu

Cheetah Iran, satu-satunya subspesies cheetah Asia yang tersisa. (bbc.co.uk)
 
 
Dari penelitian genetik, cheetah Iran yang sangat terancam punah ternyata merupakan satu-satunya subspesies unik cheetah tua Asia yang tersisa. Ia termasuk ke dalam subspesies Acinonyx jubatus (A.j.) venaticus.

Dari perbandingan DNA antara spesies cheetah, diketahui bahwa cheetah Asia berpisah dengan cheetah lain yang tinggal di Afrika, pada 30 ribu tahun yang lalu.

Temuan ini melengkapi temuan yang diumumkan pada tahun 1990-an yang menyebutkan bahwa cheetah yang ada di kawasan selatan Afrika (Acinonyx jubatus jubatus) dan cheetah yang ada di kawasan timur Afrika (Acinonyx jubatus raineyi) merupakan sub spesies yang berbeda.

Sebagai informasi, cheetah awalnya dapat ditemukan di 44 negara di Afrika. Saat ini, hanya 29 negara saja yang memiliki cheetah. Sepanjang sejarahnya, cheetah juga tersebar mulai dari kawasan barat daya Asia sampai Asia tengah. Namun kini cheetah Asia cuma ada di Iran.

Pada penelitian, Pamela Burger, dokter dari University of Veterinary Medicine in Vienna, Austria dan timnya bekerjasama dengan Department of Environment Iran serta kelompok konservasi kucing liar, Panthera untuk mengamati cheetah Iran lebih dekat.

“Dari data yang kami dapat, terbukti bahwa cheetah Iran mewakili subspesies Asia yakni A.j. venaticus karena memiliki profil genetik serupa dengan spesimen yang berasal dari barat laut Iran pada tahun 800 - 900 kalender Hebrew,” kata Burger, seperti dikutip dari BBC, 28 Januari 2011.

Peneliti juga berhasil menemukan perbedaan cheetah iran dengan cheetah terdekat dari kawasan timur laut Afrika yang dikonfirmasi sebagai A.j. soemmeringii.

Saat ini, diperkirakan hanya tersisa antara 60 sampai 100 ekor cheetah Iran dengan kurang dari separuhnya yang berada di usia subur. Rendahnya populasi cheetah ini sudah masuk ke daftar merah International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).

“Implikasi dari penemuan kami adalah pada manjemen konservasi yang perlu kita lakukan di masa depan,” kata Burger. “Jika tujuannya adalah untuk melestarikan biodiversity, subspesies cheetah ini tidak boleh dicampur,” ucapnya.

Sayangnya, cheetah Iran mengalami berbagai masalah mulai dari perburuan berlebihan terhadap mangsa mereka, degradasi habitat, sampai ke perburuan liar atas cheetah itu sendiri. Untuk itu, peneliti meminta cheetah Iran harus dilestarikan untuk melindungi masa depan cheetah pada umumnya.

Sumber: vivanews.com

8 Jenis Kucing Yang Mungkin Belum Dikenal

Kita semua tahu kucing besar: singa, harimau, macan tutul, cheetah, jaguar. agan mungkin juga akrab dengan beberapa kucing liar yang lebih kecil seperti kucing kampung, persia . Kucing ini memiliki sepupu lain yang berkeliaran di hutan belantara, spesies ini memiliki jenis yang berbeda.


1. Andean montain cat

The Andean Mountain Cat (Leopardus jacobita) sangat jarang terlihat, sebagai habitat yang dibatasi ke pegunungan Bolivia, Peru, Argentina, dan Chile pada ketinggian di atas garis pohon.


Populasi total diperkirakan hanya sekitar 2500. kucing ini tumbuh hanya sekitar dua meter panjangnya, hampir tidak lebih besar dari kucing rumah, dengan ekor tebal panjang yang bisa memberikan imbangan yang berguna untuk melakukan manuver di sekitar pegunungan.


2. Pallas's cat

Pallas's The Cat (Otocolobus manul) disebut juga "Manul". Hanya seukuran kucing domestik, tapi tampaknya lebih berat karena bulu yang padat.


Pallas's The Cat berbeda dari kucing lain dalam hal ini memiliki mata bulat dan celah dan gigi yang lebih sedikit, memberikan penampilan yang berwajah relatif datar. kucing ini berkisar dari Eropa Timur ke Siberia, menjelajahi ketinggian lebih tinggi dari Timur Tengah dan Asia. Hal ini dianggap sebagai spesies kucing tertua, yang berkembang sekitar 12 juta tahun yang lalu. Meskipun kucing ini jarang di temukan , Anda mungkin akrab dengan kucing karena foto populer dari sebuah poster.


3. Margay

Margay (Leopardus wiedii) menyerupai kucing rumahan, tetapi lebih kecil sebagai kucing rumah. Margay juga memiliki kaki yang relatif lebih panjang dari sebuah kucing rumah dan merupakan pemanjat pohon yang sangat baik.



Kucing ini tersebar di wilayah membentang dari Mexico ke bawah melalui Brazil. Spesies ini dekat-terancam jarang terlihat, karena hanya berburu di malam hari dan tetap tersembunyi di hutan hujan.


4. Fishing cat

Fishing Cat (Prionailurus viverrinus) terdapat di asia selatan dan Asia Tenggara, di mana ia lebih suka tinggal di dekat air yang lebih baik untuk mencari ikan, tentu saja! Ini adalah kucing perenang pertama dari keluarga kucing.


Kucing ini terdaftar sebagai hewan yang terancam punah karena habitatnya sedang dihancurkan sebagai lahan basah yang dikeringkan untuk digunakan manusia.


5. Serval

Serval (Leptailurus serval) adalah salah satu jenis kucing liar Afrika yg berkaki panjang yang diyakini nenek moyang kuno singa dan cheetah. kucing Ini mendiami wilayah padang savana Afrika.


Kucing ini memiliki kepala kecil dan kaki panjang yg sangat efisien untuk mengejar mangsa , Mereka juga sangat cerdas. Serval adalah kucing liar yang paling sering dipelihara sebagai hewan peliharaan rumah.


6.Caracal

Caracal (Caracal caracal) memiliki penampilan khas Amerika Utara, kucing ini tumbuh dengan baik, dan hidup di Afrika dan Asia. Kucing ini tumbuh tipis tinggi sekitar tiga meter panjangnya.


Caracal lebih suka hidup di gunung atau daerah gurun, dan dapat bertahan hidup tanpa air lebih lama daripada kucing lainnya. Walaupun jarang terlihat, Caracal berlimpah di alam liar, dan kadang-kadang disimpan sebagai hewan peliharaan.


7.African Golden Cat

African Golden Cat (Profelis aurata) tidak selalu berwarna emas. Bahkan, warnanya sangat bervariasi antara individu, mulai dari emas kemerahan menjadi abu-abu gelap dengan tanda khusus pada beberapa kucing dan dada yang lebih terang Hal ini juga dapat berubah warna selama siklus hidupnya.


Golden Cat asli hidup di hutan hujan Afrika khatulistiwa. kucing Ini jarang terlihat, kucing tumbuh panjang 30-32 inci dan beratnya sampai 40 kilogram. Cat Golden diklasifikasikan sebagai hewan hampir terancam punah.



8.Sand cat

Sand cat (Felis margarita) tinggal di padang pasir Afrika, Semenanjung Arab, dan Asia Barat. ukurannya sama kayak kucing domestik, dengan bulu yg lebih tebal.


Sand cat memiliki kepala lebar dan bulu tumbuh di antara kaki, kelebihan yang sering ditemukan pada kucing Arktik. tujuannya untuk adaptasi kaki terhadap lingkungan, akan tapi tetap kaki Cat Sand dilindungi dari permukaan yang panas. Kucing ini terdaftar sebagai hewan terancam punah, pemburuannya dilarang di banyak negara.


Sumber http://blogkempul.blogspot.com