Thursday, February 10, 2011

Kontroversi New7Wonders



Alasan "Lebay", Komitmen Pemerintah dan Kompetisi "Tandingan"

Tadi malam, saat membuka situs blog resmi  New 7 Wonder, saya sempat tersenyum-senyum sendiri didepan monitor komputer. Dalam artikel bertajuk “New7Wonders keeps Komodo, but removes Ministry of Culture and Tourism from official role” sang penyelenggara kompetisi New 7 Wonder itu menyatakan tetap mempertahankan voting Taman Nasional Komodo dalam ajang New 7 Wonder namun “memecat” Kementerian Kebudayaan Pariwisata (Kemenbudpar) sebagai Official Supporting Committee mereka.
Bernard Weber, President and Founder New 7 Wonder (N7W) dalam blog itu menyatakan :
“Every action by the Ministry of Culture and Tourism last week strengthened the case for us to withdraw from Indonesia completely. If we depended on the Ministry, then today we would be forced to announce a complete pull-out.”
“Fortunately, in the past days we have received many encouraging and supporting requests from the public and leading individuals to allow Komodo to continue as a Finalist in the Official New7Wonders of Nature”
“The main news today is this: with the removal of the Ministry of Culture and Tourism from its official role in the campaign, voting for Komodo can continue.“
Pernyataan Weber menurut saya sungguh aneh. Bagaimanapun sebagai pemangku otoritas dan regulasi dibidang kebijakan Kebudayaan dan Pariwisata di Indonesia, Kemenbudpar seyogyanya tetap menjadi mitra strategis yang paling pas untuk mereka dalam kompetisi ini.

Alasan mereka bahwa Kemenbudpar melakukan pengingkaran komitmen dengan menolak Indonesia menjadi tuan rumah deklarasi New 7 Wonder yang turut menjadi dasar pemikiran perusahaan asal Swiss ini mengeluarkan Kemenbudpar sebagai mitra kepanitiaan resmi , sungguh sangat menggelikan dan kekanak-kanakan.

Dalam siaran pers resmi yang dikeluarkan oleh Kemenbudpar kemarin (7/2), Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik secara jelas menyatakan:
”Pemerintah Indonesia tidak pernah membuat perjanjian dengan pihak penyelenggara N7W maupun pihak lain, di luar kesepakatan yang telah tercantum dalam Standard Participation Agreement”
”Pemerintah Indonesia menilai N7W bertindak terlalu jauh dan tidak masuk akal, dengan mengaitkan status TNK sebagai finalis N7W dengan tawaran menjadi tuan rumah untuk acara pengumuman pemenang. Untuk menjadi tuan rumah acara tersebut Pemerintah harus membayar pembayaran license fee sebesar USD10 juta. Biaya tersebut belum termasuk biaya penyelenggaraan acara seperti biaya produksi, tempat acara serta lain-lain yang secara total bisa mencapai USD45 juta. Pemerintah menganggap pemilihan finalis New7Wonders seharusnya didasarkan atas aspek keunikan dan besarnya dukungan masyarakat dunia, bukan atas persyaratan pembayaran uang jasa sebagai tuan rumah yang bernilai jutaan dolar,”
Menteri juga menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia telah memenuhi seluruh persyaratan penominasian, yakni dengan memberikan dukungan resmi pada tiga nominasi dari Indonesia; (1) Taman Nasional Komodo, (2) Danau Toba dan (3) Anak Gunung Krakatau, pada Agustus 2008 silam, serta mendaftarkan diri sebagai Official Supporting Committee dan mengisi “Standard Participation Agreement” yang menetapkan Pemerintah, antara lain, untuk memenuhi kewajiban administrasi sebesar USD199 untuk masing-masing nominasi dari Indonesia.

Fakta-fakta diatas menyebutkan bahwa sesungguhnya Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kemenbudpar telah mengikuti prosedur standar yang telah ditetapkan. Tidak ada pengingkaran karena memang segala kewajiban administratif telah terpenuhi dan sejauh ini pemerintah tidak terlibat dalam pembicaraan bersama konsorsium swasta sebagaimana yang kerap disebut-sebut oleh N7W.

Dari penjelasan Menbudpar diatas, semakin terlihat jelas faktor uang yang berada dibalik ajang New 7 Wonder ini. Perusahaan swasta asal Swiss itu berusaha menampilkan “pencitraan” yang rapi dengan publikasi menawan bahwa seakan-akan, ada dukungan dan desakan publik untuk tetap mempertahankan TN Komodo dalam daftar nominasi N7W ini. Alasan “lebay” yang dikemukakan itu sesungguhnya untuk menutupi hasrat besar untuk memanfaatkan potensi raksasa yang dimiliki Indonesia untuk memperoleh keuntungan.

Dengan mencoret TN Komodo dalam nominasi tentu akan begitu besar potensi penghasilan yang lenyap dan dapat diraup oleh perusahaan ini. Indonesia, dengan jumlah populasi 238 juta jiwa dan berada pada peringkat keempat penduduk terbanyak didunia, mengalami pertumbuhan spektakuler dalam hal penggunaan internet dan aktifitas online selain terkenal memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi .

Seperti dikutip dari berita di Kompas.com Indonesia menempati urutan pertumbuhan tercepat kedua di dunia dari sisi jumlah pengguna Facebook. Indonesia hanya kalah dari AS yang juga merupakan pengguna Facebok terbanyak di dunia.

Berdasarkan survei Inside Facebook yang dilakukan eMarketer, jumlah pengguna Facebook di Indonesia naik 1.431.160 juta pengguna dalam sebulan terakhir. Pada 1 Desember 2009, e-marketer mencatat jumlah pengguna Facebook di Indonesia 13.870.120 pengguna, sedangkan pada 1 Januari 2010 sebesar 15.301.280 pengguna. Indonesia hanya satu peringkat di bawah AS yang mencatat kenaikan jumlah pengguna 4.576.220 pengguna dalam periode yang sama dari 98.105.020 menjadi 102.681.240 pengguna.
Meski demikian, persentase kenaikan jumlah pengguna Facebook di Indonesia mencapai dua kali lipat AS. Indonesia naik 10 persen, sedangkan AS hanya 5 persen. Kenaikan 10 persen termasuk persentase pertumbuhan tertinggi di dunia. Selain Indonesia, beberapa negara yang mencapai kenaikan dengan persentase 10 persen antara lain Filipina dan Malaysia.
Fakta yang lain, seperti dikutip dari detik, Indonesia adalah pengguna Twitter kedua terbesar di dunia setelah Brasil berdasarkan lembaga pemeringkat Comscore. dengan persentase sebesar 20,5 %. Penetrasi mobile internet yang begitu cepat dan murah kian menambah intensitas pengguna aksesnya di Indonesia.
Pertimbangan ini tentu saja tidak diabaikan oleh N7W untuk menggugah dan memicu sentimen nasionalisme bangsa ini guna meraup benefit sebanyak-banyaknya melalui voting online dalam ajang kompetisi N7W dengan tetap mempertahankan Taman Nasional Komodo dalam N7W.

Pemerintah Indonesia, dengan atau tanpa N7W, tetap akan berkomitmen mempromosikan TNK, sebagai warisan dunia yang telah ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 1991 dan perlu dilindungi serta dijaga kelestariannya. Keikutsertaan TNK dalam N7W tersebut tentu dilakukan untuk lebih mempopulerkan pengakuan TNK sebagai Situs Warisan Dunia.

Saya sangat mengapresiasi niat Mas Keke (atau Riyeke Ustadiyanto, SEO Creative Director Marketbiz.net) dan kawan-kawan yang menggagas Kompetisi SEO Komodo Contest di www.contest.comodo.me. yang dapat menjadi semacam “tandingan” atas kompetisi ini.

Melihat polemik dari Pulau Komodo sebagai New 7 Wonders (7 Kejaiban Dunia Baru), maka kita buktikan saja, bahwa memang saatnya mengatakan sebenarnya ke khalayak dunia di Google dan Search Engine lainnya, merupakan kewajiban kita semua.
Kami mengajak Anda semua untuk mengatakan dan menyuarakan bahwa Pulau Komodo adalah 7 Keajaiban Dunia sebenarnya. SEO Contest ini tidak dilatarbelakangi oleh politik, kepentingan dan murni apa yang harus dikatakan pada dunia.
Kata kunci yang di lombakan adalah “Komodo Island is the NEW 7 Wonders of  The World”
Sebuah niat yang luhur yang patut didukung. Semoga aksi nyata mewujudkan impian “Komodo Island is the NEW 7 Wonders of The World” yang digagas lewat kompetisi ini dapat terwujud nyata dan menunjukkan pada dunia bahwa Taman Nasional Komodo memang layak menyandang predikat ini tanpa harus tergantung pada kompetisi N7W yang sarat kepentingan dan unsur komersil.


Sumber: daengbattala.com

W7Woders dan Kotroversi yang Menyertainya

Komodo (sumber : Kompas.com)


Menarik sekali membaca blog Mas Priyadi yang membahas soal Fakta-Fakta di Balik New 7 Wonders yang digagas oleh sebuah perusahaan privat di Swiss untuk melakukan pemilihan 7 keajaiban dunia baru yang dilaksanakan melalui kontes popularitas online berskala global. Taman Nasional Komodo terpilih menjadi salah satu finalis dari 28 negara untuk menjadi salah satu kandidat pemenang dalam ajang ini.


Dan situasi mendadak “memanas” ketika hari ini diberitakan nominasi Indonesia terancam di-elimninasi dalam kompetisi terkait ketidaksiapan menjadi tuan rumah deklarasi yang akan diadakan tanggal 11 November 2011. Tak kurang pengacara kondang Todung Mulya Lubis yang juga Ketua Masyarakat Transparansi Indonesia ditunjuk oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) sebagai pengacara untuk menghadapi situasi ini. Alasan eliminasi dari nominasi hanya karena Indonesia tidak bersedia menjadi tuan rumah (hosting) deklarasi sungguh tidak adil setelah mekanisme voting itu sendiri dilaksanakan sejak 2008.
Seperti yang saya kutip dari Kompas.com, Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar) Sapta Nirwandar menyatakan:
“Kita minta keadilan, voting dari 2008 masa hilang karena gak mau hosting. Hormatin dong voting dari tahun 2008. Ini voting kan bukan hanya dari orang Indonesia, tetapi juga luar negeri,” kata Sapta kepada Kompas.com via telepon, Jumat (4/2/2011).
Namun, Sapta mengakui bahwa di perjanjian umum pada saat mendaftar terdapat klausa yang menyatakan bahwa pihak New7Wonders berhak mengeliminasi apabila tidak sesuai dengan ketentuan. “Tapi itu kan kalau punya dosa. Ini dosanya apa?” ucapnya.
Sapta menuturkan bahwa eliminasi jelas dikaitkan dengan posisi Indonesia sebagai tuan rumah. Sapta menambahkan, Indonesia tidak ikut jadi tuan rumah karena tidak siap dengan kondisi biaya. “Kalau dia (New7Wonders) mau eliminasi, eliminasi Indonesia yang tidak sanggup jadi host. Ini kita yang dieliminasi Komodo yang jadi finalis. Mestinya profesional,” katanya.
Pihak New7Wonders memang telah melakukan kontrak dengan sebuah konsorsium swasta di Indonesia. Sapta mengatakan, pihaknya tidak pernah tahu ada kontrak tersebut. Selama ini, ia melanjutkan, pihak Kembudpar baru sebatas mengadakan pembicaraan saja mengenai ketertarikan menjadi tuan rumah dan sama sekali belum terikat kontrak dengan New7Wonders.

Dalam sebuah berita di Kompas.com hari ini dipaparkan pula,
Gugatan kepada New 7 Wonder akan dilayangkan melalui pengacara Todung Mulya Lubis. Surat tersebut juga akan ditembuskan kepada 27 finalis New7Wonders lainnya.
“Todung mengirim surat mengenai masalah ini ke pihak New7Wonders. Tahap pertama nanti kita lihat dulu reaksinya,” kata Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar) Sapta Nirwandar kepada Kompas.com via telepon, Jumat (4/2/2011).
Dalam surat Menbudpar Jero Wacik yang ditujukan kepada Wakil Presiden Boediono perihal “The Truth Behind N7W: Konsistensi, Kredibilitas, dan Kehormatan Bangsa”, Kembudpar telah menyiapkan langkah-langkah dari aspek hukum dan sosial masyarakat.
Dari aspek hukum, Kembudpar telah berkonsultasi dengan Todung selaku pengacara. Selain itu, Kembudpar juga belum pernah menandatangani perjanjian sebagai tuan rumah penyelenggaraan deklarasi New7Wonders. Langkah yang akan diambil Kembudpar adalah menyampaikan surat pengunduran diri dari minat menjadi tuan rumah.

Sementara itu, pada berita di Tempo Interaktif, Sapta mengungkapkan:
Ancaman Yayasan New7Wonders (N7W) yang bakal mengeliminasi Komodo dari nominasi tujuh keajaiban baru dunia, sangat merugikan Indonesia.
Yayasan internasional itu menyatakan akan mengeliminasi Komodo jika pemerintah dan konsorsium swasta tidak memenuhi landasan hukum yang disepakati. Namun, pemerintah membantah adanya kontrak dengan N7W tentang penunjukkan Indonesia sebagai tuan rumah deklarasi kompetisi pada 11 November mendatang.
Menurut Sapta, saat ini masyarakat luas baik dalam maupun luar negeri sudah memberikan suaranya untuk memilih Komodo. “Tentu jika komodo dieliminasi akan mengecewakan para pemilihnya,” kata Sapta.
Kekecewaan itu, kata Sapta, saat ini sudah mulai terasa. Salah satunya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Masyarakat NTT, kata Sapta, mengusulkan agar pemerintah membuat kompetisi tandingan untuk menampung suara yang sudah terkumpul bagi Komodo. “Tapi kami belum menindaklanjuti usul tersebut.”

Pada Blog “Save Komodo” (yang nampaknya menjadi “corong” informasi New7Wonder) , atas nama “anak bangsa” secara “heroik” menyebutkan:
Kini setelah memasuki tahun kedua, Komodo terancam dicopot dari nominasinya. Mengapa? Karena barangkali kita semua terlalu cuek dan kurang cerdas memanfaatkan peluang besar ini dan seringkali juga kurang cermat bergaul dengan masyarakat internasional.
Yayasan N7W di Zurich yang bertindak sebagai pemrakarsa dan pemilik hak penyelenggaraan sebenarnya sudah menetapkan dan memilih Indonesia sebagai tempat penyelenggaraan Deklarasi dan Penganugerahan 7 Keajaiban Alam Yang Baru pada tanggal 11 Nopember 2011. Indonesia dipilih karena selain banyak keanekaragaman hayatinya, juga karena masyarakatnya yang ramah serta terlah berkali-kali sukses menyelenggaraan berbagai pertemuan dan festival internasional. Dan yang paling penting lagi adalah azas demokrasi di Indonesia sangat luar biasa. New7Wonders adalah 100% pilihan masyarakat dan rakyat dunia bukan pilihan pemerintah atau lembaga pemerintah. Jadi azas demokrasi adalah tulang punggung dari eksistensi dan kompetisi ini. Indonesia telah menjadi raksasa demokrasi dunia.

Sejak Komodo ditetapkan sebagai finalis 7 Kejaiban Alam Dunia, pemerintah sadar bahwa untuk bersaing dengan calon keajaiban alam dunia lainnya seperti Amazone, Great Barrier Reefs, Grand Canyon, Kilimanjaro dan Sundhaban yang memiliki dukungan milyaran masyarakatnya tidak mudah. Oleh karena itu maka dibutuhkan strategi khusus untuk tampil dan menang sebagai salah satu keajaiban alam dunia yang baru. Strategi ini diwujudkan dalam keinginan pemerintah untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Deklarasi dan Penganugerahan Pemenang 7 Keajaiban Alam Dunia yang baru. Keingingan ini sudah berkali-kali disampaikan kepada masyarakat dan Yayasan N7W. Bahkan pada awal tahun 2010 yang lalu, Kemenbudpar selaku pemrakarsa ide ini telah mengundang pihak N7W dating ke Jakarta untuk memberi saran dan masukan bagaimana agar Komodo menang dan Indonesia menjadi tuan rumah Penganugerahan dimaksud. Berkali-kali N7W datang ke Jakarta untuk meninjau dan memastikan bahwa Jakarta, Indonesia pantas menjadi tuan rumah. Pemerintah sangat antusias. Bahkan rancangan Keputusan Presiden tentang Panitia Nasional Vote Komodo dan rencana menjadi tuan rumah sudah diajukan sejak pertengahan Januari 2010.
Pada bagian lain, situs ini juga menceritakan kronologis peristiwa hingga Taman Nasional Komodo terancam dieliminasi dari nominasi 7 New Wonders.

Sore tadi saat saya ikut hadir dalam sebuah pertemuan informal bersama sejumlah perwakilan rekan blogger dari berbagai komunitas bersama Kemenbudpar yang di-inisiasi oleh IDBlognetwork. Saya sedikit banyak mendapatkan pencerahan soal kontraversi yang terjadi soal New 7 Wonders ini.
Berikut catatan saya:
1.  Merujuk pada situs blog resmi New 7 Wonder disebutkan angka yang cukup fantastis untuk lisensi fee penyelenggaraan event deklarasi sebesar US$ 10 Juta (Rp 100 Milyar) yang konon telah secara legal ditandatangani dalam kontrak bersama New 7 Wonders dengan “Private Consorsium” (Tidak jelas ini “private consorsium” apa, istilah yang sama disebut Pak Sapta pada awal kutipan artikel diatas dengan istilah sebagai “konsorsium swasta”) .
Bagi saya angka Rp 100 Milyar bukanlah sebuah nilai yang sedikit dan banyak yang bisa dilakukan untuk dunia pariwisata di Indonesia dengan uang sebesar itu ketimbang untuk sebuah perhelatan deklarasi gelar “7 New Wonder” yang terkesan seremonial belaka. Nilai itu bisa lebih besar lagi bila ditambahkan biaya penyelenggaraannya sendiri (konon dapat mencapai US$ 35 juta). Saya sempat tersenyum saat salah seorang peserta diskusi nyeletuk,”Duit itu mending dipake beli makanan komodo dan pengembangan habitatnya disana!”.

2. Mekanisme pemilihan lewat voting di internet sangat rentan manipulasi. Pemungutan suara secara online bisa saja dilakukan berkali-kali oleh pihak yang sama apalagi tidak dilakukan verifikasi dan audit independen untuk itu. Kontraversi memang kerap terjadi pada ajang ini. Seperti tercantum di Wikipedia terdapat 14 juta suara dari dalam negeri Yordania telah memilih Petra–sebuah situs bersejarah disana–padahal populasi penduduk Yordania sendiri berada dibawah 7 juta orang.

Saya tertarik pada pernyataan di situs World Heritage Convention UNESCO, Badan Resmi PBB yang mengurus soal konservasi situs keajaiban dunia yang menyatakan secara tegas bahwa:
The list of the “7 New Wonders of the World” will be the result of a private undertaking, reflecting only the opinions of those with access to the internet and not the entire world.  This initiative cannot, in any significant and sustainable manner, contribute to the preservation of  sites elected by this public.
Kredibilitas UNESCO dalam penetapan reservasi daerah atau tempat yang perlu dilestarikan merupakan sebuah rujukan valid karena tentu telah melalui kajian-kajian ilmiah yang komprehensif serta mendalam dan tidak sekedar kesan sesaat atau pertimbangan sentimental belaka.

3. Saya tidak mengerti mengapa lantas status nominasi Taman Nasional Komodo terancam dihapus hanya lantaran Indonesia tak bersedia menjadi tuan rumah deklarasi. Ah, come on, ini sebuah alasan yang mengada-ada. Kita sudah cukup cerdas untuk memahami tak ada kaitan apapun antara kedua hal ini. Seharusnya, atas dasar keadilan, nominasi Komodo tetap jalan meski Indonesia tidak jadi tuan rumah.
Saya sependapat dengan apa yang disinyalir Mas Priyadi dalam tulisan diblognya bahwa:
New7Wonders hanyalah eksploitasi terhadap rasa nasionalisme. Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar dan mayoritas memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Wajar jika kini kita semua menjadi incaran mereka. Terlihat mereka seperti sangat berat hati jika harus memindahkan lokasi acara puncak ke luar Indonesia, sampai-sampai harus memberi ancaman untuk mendiskualifikasi Pulau Komodo.
Harapan saya, dan mungkin juga harapan seluruh masyarakat Indonesia bahwa kita tentu akan menolak upaya-upaya sistematis  yang “memanfaatkan” sentimen nasionalisme bangsa ini untuk kepentingan segelintir pihak yang hanya ingin menangguk keuntungan komersil dari sana.

4. Saya mendukung sikap Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengambil langkah tegas bahkan untuk melakukan rencana gugatan kepada 7 News Wonder.  Kehormatan dan harga diri bangsa ini layak diperjuangkan. Saya tidak sependapat atas apa yang dikatakan si “anak bangsa” yang menyatakan: barangkali kita semua terlalu cuek dan kurang cerdas memanfaatkan peluang besar ini dan seringkali juga kurang cermat bergaul dengan masyarakat internasional. Justru bagi saya,momentum ini telah menggugah kecerdasan dan kesadaran kita semua untuk kian peduli pada potensi pariwisata negeri sendiri dan By the way, memangnya siapa pula yang dimaksud dengan “masyarakat internasional” sehingga membuat kita seringkali  jadi kurang cermat bergaul ? Lembaga 7 New Wonder? Meminjam Kalimat Sule OVJ : “Owh, Tidak Bisa! :)


5. Apapun langkah yang diambil oleh Pemerintah Indonesia dalam menyikapi situasi ini, saya yakin inilah langkah terbaik. Jika memang Taman Nasional Komodo mesti dihapuskan dalam ajang kompetisi, bukanlah sebuah hal yang harus dirisaukan. Saya yakin segenap elemen bangsa ini akan mengerahkan segala kemampuan terbaiknya  untuk bersama-sama mempromosikan daerah wisata di Indonesia, dengan atau tanpa ajang 7 New Wonders.  Promosi Taman Nasional Komodo dan Daerah wisata potensil lainnya di Indonesia, lewat cara dan bentuk apapun, adalah manifestasi cinta dan rasa kebangsaan kita yang tinggi untuk bangsa ini.

MAJU TERUS INDONESIAKU !

 Sumber: daengbattala.com

Sebuah Surga di Bahari Derawan




Sebuah nirwana tropis berada di salah satu pulau wilayah Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya Kabupaten Berau dan di Selat Sulawesi, tak jauh dari perbatasan Malaysia. Pulau Derawan menjadi sebuah destinasi wisata bahari pilihan menawan buat Anda yang menyukai pantai dengan hamparan pasir putih lembut berkilat serta air jernih. Apalagi ditambah bonus menjumpai penyu-penyu jinak yang berenang-renang riang saat kita melakukan penyelaman.

Terkadang saat duduk di ujung jembatan kayu yang mengarah ke laut, kita dapat menyaksikan penyu-penyu hijau itu hilir mudik di permukaan air yang bening. Sesekali bahkan penyu-penyu tersebut nampak berkeliaran di sekitar cottage yang berada di pesisir pulau. Saat malam tiba, beberapa penyu naik ke darat dan bertelur di sana.

Paduan warna laut dan lumut yang memukau menghasilkan gradasi warna biru dan hijau, serta hutan kecil di tengahnya, membuat pulau ini menyajikan pemandangan alam begitu indah yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Yang tersisa, kenangan mendalam.




Dr. Carden Wallace dari Museum Tropis Queensland, Australia pernah meneliti kekayaan laut Pulau Derawan dan menjumpai lebih dari 50 jenis Arcropora (hewan laut) dalam satu terumbu karang. Tak salah kiranya jika Pulau Derawan terkenal sebagai urutan ketiga teratas di dunia sebagai tempat tujuan menyelam bertaraf internasional

Pulau ini memang relatif kurang begitu dikenal khususnya di dalam negeri karena untuk mencapainya butuh perjuangan tersendiri yang cukup berliku. Anda mesti menuju ke Balikpapan dulu dari Jakarta, Surabaya, Yogyakarta atau Denpasar, untuk menuju pulau ini. Kurang lebih dua jam waktu tempuh penerbangan dari Jakarta ke Balikpapan.

Dari Balikpapan, Anda masih harus terbang menuju Tanjung Redeb selama satu jam dengan menaiki pesawat kecil yang dilayani oleh KAL Star, Deraya atau DAS. Selain itu, Tanjung Redeb juga bisa dicapai melalui laut, dengan menaiki kapal dari Samarinda atau Tarakan ke Tanjung Redeb dilanjutkan dengan menyewa motorboat menuju pulau Derawan dengan lama perjalanan kurang lebih 2 jam.




Banyak wisatawan manca negara yang baru turun dari pesawat di bandara Kalimarau, Tanjung Redeb langsung berangkat ke pulau Derawan dengan motorboat yang sudah ditambatkan di sebuah pelabuhan khusus.

Alternatif lain bisa juga melalui perjalanan darat dari Balikpapan ke Tanjung Batu lalu dari sana menyeberang ke Pulau Derawan. Hanya saja ini bukan pilihan yang bagus karena perjalanan penyeberangan itu sendiri memakan waktu hingga belasan jam dengan medan yang relatif tidak menyenangkan.

Meskipun begitu, tahukah Anda, justru banyak wisatawan asing yang sudah tahu lebih banyak soal keberadaan pulau eksotis ini. Sejumlah wisatawan Jepang dari Tokyo melalui travel yang ada di sana “tembak langsung” berangkat ke Singapura atau ke Sabah kemudian melanjutkan perjalanan ke Balikpapan, lalu ke Tanjung Redeb menggunakan pesawat kecil.

Mereka memanfaatkan waktu mereka selama di Derawan dengan menyelam, menyusuri keindahan bawah laut di pulau tersebut yang memang merupakan lokasi terbaik untuk olahraga selam. Apalagi dengan kondisi pulau yang terpencil dan “masih perawan” kian menambah pesona siapapun juga untuk menikmatinya selama mungkin.




Tak usah jauh-jauh, hanya dalam jarak 50 meter dari bibir pantai, kita sudah dapat menyaksikan terumbu karang yang indah dan ikan-ikan beraneka warna hilir mudik. Airnya sangat bening. Anda pun bisa menyewa snorkel seharga Rp 30 ribu per hari. Bila ingin menyelam lebih dalam, kita dapat menemukan ikan-ikan yang lebih “eksotis” seperti kerapu, ikan merah, ikan kurisi, ikan barracuda, teripang, dan kerang. Pada batu karang di kedalaman sepuluh meter, terdapat karang yang dikenal sebagai "Blue Trigger Wall" karena pada karang dengan panjang 18 meter tersebut banyak terdapat ikan trigger (red-toothed trigger fishes).

Pulau Derawan menyediakan fasilitas-fasilitas tempat penginapan (cottage), penyewaan peralatan menyelam dan juga restoran. Ada pula penginapan-penginapan bertarif murah yang dikelola oleh warga sekitar. Kisaran harganya mulai dari Rp 45 ribu sampai Rp 100 ribu/malam.


Masih belum puas?

Anda dapat meninjau juga pulau lainnya yang berada di sekitar Derawan. Misalnya: Pulau Sangalaki, Maratua, dan Pulau Kakaban yang mempunyai keunikan tersendiri. Ikan Pari Biru (Manta Rays) yang memiliki lebar mencapai 3,5 meter berpopulasi di Pulau Sangalaki. Malah bisa pula ditemui—jika cukup beruntung—ikan pari hitam dengan lebar “bentang sayap” 6 meter . Sedangkan Pulau Kakaban mempunyai keunikan yaitu berupa danau prasejarah yang ada di tengah laut, satu-satunya di Asia.

Oleh Amril Taufik Gobel

Sumber: id.travel.yahoo.com